Senin, 19 September 2011

Setia Dalam Kekosongan

Rut 1:16

Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan dimana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam. Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku



“Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.” Inilah sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia. Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang, kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?
Salah satu tokoh wanita yang ditulis dalam Alkitab, Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi, boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang berada.
Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh Naomi, tetapi ada pernyataan bahwa Naomi “pergi dengan tanah penuh” (Rut 1:21). Akan tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi jatuh miskin – “tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku”. Disinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan Naomi dalam “kekosongannya”.
Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu, jika kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita setia (Renungan Harian Setahun; Penerbit Gloria)
Jangan biarkan kesetiaan kita ditentukan oleh harta, tetapi tentukanlah kesetiaan kita oleh kasih


http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/main_daily_update/date/2011-09-19.html

Selasa, 26 April 2011

Proses Pengudusan

1 Petrus 1:15-16
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu samAa seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Dalam 1 Petrus 1:16 dituliskan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ini adalah sebuah perintah diluar kemampuan kita! Tapi itulah yang Tuhan ingin lakukan dalam hidup kita – menjadikan kita kudus. Rencana besar-Nya dapat disimpulkan dalam satu kata: pengudusan. Ini adalah proses tiga tahap dimana Dia telah menetapkan kita bagi rencana-Nya.

Tahap satu adalah saat kita diselamatkan. Ketika Tuhan menyatakan kita kudus, kita pada dasarnya kudus. Tahap  kedua adalah pertumbuhan mengarah pada tujuan yang sudah Tuhan tetapkan. Proses ini akan berlangsung seumur hidup kita.
Dari mulanya Tuhan membentuk kita segambar dengan Anak-Nya, dan Dia terus membentuk kita baik tingkah laku, karakter dan juga percakapan kita. Meskipun Tuhan adalah satu-satunya yang akan menyelesaikan proses transformasi ini, kita memiliki tanggung jawab dalam proses ini. Jika kita tidak bekerja sama dengan-Nya, dunia lah yang akan membentuk kehidupan kita, dan kita akan melewatkan rencana Tuhan yang besar.
Tahap tiga pengudusan kita adalah saat kita mengalami kekudusan mutlak. Hal ini terjadi saat kita mengalami kematian fisik, jiwa dan roh kita dibebaskan dari dosa dan dalam kebangkitan, tubuh kita akan disempurnakan. Kita akan berdiri dalam keadaan sempurna, tidak bercacat di hadapan Kristus.
Jika kita bisa melihat sekilas saja, kita tidak akan pernah mengeluh atau menggerutu ketika kita menghadapi pengudusan dalam hidup ini. Arahkan mata kita pada tujuan akhir kita, jadikan motivasi utama kita untuk memuliakan Tuhan dengan menyerahkan hidup kita di tangan-Nya untuk Ia ubahkan.
Hidup kudus bukannya sesuatu yang mustahil, bersama Yesus kita akan dikuduskan menjadi serupa dengan rupa dan gambar-Nya.

Kamis, 21 April 2011

Perjamuan Kudus

I Korintus 11:27-28
Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

Matius pasal 26 menceritakan salah satu acara paling terkenal dalam sejarah manusia dan juga acara makan bersama paling terkenal, Perjamuan Terakhir.

Ketika semua murid sudah duduk bersama, Yesus berkata, “"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (ayat 27-28).
Yesus, seperti yang sering Ia lakukan, berbicara secara simbolis. Mengatakan sesuatu secara langsung tidak sesuai dengan perumpamaan yang sering Ia gunakan. Setelah itu, Yesus berkata bahwa Dialah Roti Kehidupan. Dan tidakkah Ia pernah mengatakan bahwa Dialah pintu?

Jadi, apakah kita orang Kristen berkeras bahwa Yesus adalah benar-benar roti dan pintu? Tentu saja tidak. Kita tidak berkeras bahwa roti dan anggur itu benar-benar secara nyata adalah darah dan daging Yesus. Tidak ada bukti bahwa terjadi sesuatu yang supranatural terjadi proses perubahan atas isi cawan itu berubah menjadi darah-Nya dan roti menjadi daging-Nya.

Oleh karena itu, ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, jangan dibingungkan dengan apa yang terwakili olehnya. Kita tidak perlu berpikir bahwa roti adalah daging dan anggur mengandung darah.

Namun di lain sisi, kita jangan merendahkan Perjamuan Kudus dengan meremehkannya. Jelas Alkitab memperingatkan kita untuk menyadari pentingnya Perjamuan Kudus (Lihat 1 Korintus11:23-30).

Roti  dan anggur bukanlah suatu unsur suci, namun hal itu mewakili unsur suci. Jadi lakukanlah dengan penuh penghormatan dan resapilah ketika melakukan Perjamuan Kudus. Sadarilah bahwa apa yang Anda lakukan adalah sebuah pengingat akan apa yang Yesus lakukan bagi kita ketika Ia disalibkan.  Dengan darah yang tercurah dan dagingnya yang tercabik-cabik itu, setiap dosa, sakit dan penderitaan kita telah ditanggungnya. Anggur dan roti itu adalah pengingat bahwa Tuhan begitu mengasihi kita sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya siapa yang percaya pada-Nya tidak binasa.
Roti dan anggur yang kita makan dan minum saat perjamuan kudus adalah pengingat bahwa seorang pribadi telah mati bagi kita.

Selasa, 19 April 2011

Jangan Buat Yesus Menangis Lagi

Lukas 19:41-42

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya:
"Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Yesus memasuki Yerusalem dengan kemegahan, orang-orang merayakannya. Mereka tertawa. Mereka senang. Mereka mengalami waktu yang indah. Lalu apa yang Yesus lakukan? Dia melihat kota itu, dan Dia menangisi-Nya. Ditengah kerumunan itu, yang menggila, dan Yesus menangisinya. Kerumunan itu bersukacita, dan Kristus terisak-isak.

Mengapa Yesus menangis ketika melihat Yerusalem? Sebagai Tuhan yang maha tahu, Yesus tahu bahwa orang-orang yang sedang bersorak, “Hosana!” ini akan dengan segera berteriak, “Salibkan Dia!” Dia tahu bahwa salah satu murid-Nya, Yudas, akan mengkhianati-Nya. Dia tahu murid-Nya yang lain, Petrus, akan menyangkal Dia. Dia tahu bahwa Kayafas, imam besar itu, akan berkonspirasi dengan Pilatus,  Gubernur Roma, untuk membunuh Dia. Dan, Dia tahu masa depan Yerusalem. Melihat 40 tahun kemudia, Dia melihat kehancuran akan terjadi pada kota itu di tangan Kaisar Titus dan tentara Romawinya.

Yesus juga menangis karena masa pelayanan-Nya akan segera selesai. Waktu begitu singkat. Dia telah menyembuhkan penyakit mereka. Dia telah membangkitkan orang mati. Dia telah mentahirkan orang kusta. Dia telah memberi makan orang lapar. Dia telah mengampuni dosa mereka. Namun dalam sebagian besar waktunya, Dia ditolak. Yohanes 1:11 berkata, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” Jadi Dia menangis. Hal itu menghancurkan hatinya, dan hal ini masih terjadi.

Ketidak percayaan dan penolakan menghancurkan hati Tuhan, karena Dia tahu akibatnya. Tetapi ketika hati manusia tertutup, Dia menolak masuk secara paksa. Dia hanya akan mengetuk pintu hati itu, menunggu untuk diijinkan masuk. Dia memberi kita kemampuan untuk memilih. Tetapi ketika kita salah memilih sesuatu, Dia tahu dampak yang akan mengikutinya – baik dalam hidup ini dan juga yang akan datang. Dan hatinya hancur karenanya. (Greg Laurie/Harvest.og)

Setiap pilihan buruk yang kita buat, Yesus menangis karena hati-Nya hancur melihat umat yang Ia kasihi harus mengalami konsekuensi yang buruk.

Rabu, 13 April 2011

Menyukai Kegelapan

Yohanes 3:19
Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Orang Farisi tidak meragukan Yesus karena mereka tidak setuju dengannya. Mereka meragukan Yesus karena mereka dengan keras menentang-Nya.

Keraguan adalah tentang pikiran. Bahkan orang Kristen mengalami masa-masa keraguan. Kita tidak selalu mengerti mengapa Tuhan melakukan sesuatu atau mengapa Dia melakukannya. Ketidakpercayaan, sangat kontras, ini adalah masalah kehendak. Ini adalah pilihan yang kita buat.

Orang Farisi penuh dengan ketidakpercayaan. Mereka tidak menolak Yesus karena kurangnya bukti atau karena Dia tidak konsisten dengan apa yang Dia katakana. Faktanya adalah bahwa Yesus adalah contoh yang sempurna. Bahkan Pontius Pilatus berkata, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini.” (Lukas 23:4) dan “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Yudas Iskariot, murid yang menghabiskan waktu 3 tahun bersama Yesus dan mengkhianati Dia berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” (Matius 27:4). Jadi, bisa dikatakan bahwa Yesus adalah model dari segala sesuatu yang Ia katakan.
Orang Farisi menolak Yesus karena menginterfensi cara hidup mereka. Dan itulah alasan mengapa mereka menolak Dia saat ini. Yesus berkata, “Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;” (Yohanes 3:19-20)

Seseorang menolak Yesus bukan karena telah melakukan penelitian dengan cermar bukti dan menemukan bahwa bukti itu tidak cukup meyakinkan. Mereka menolaknya tidak karena membaca ayat Alkitab dan menemukan beberapa kontradiksi. Mereka menolaknya tidak karena menemukan beberapa orang munafik di gereja. Mereka menolak Yesus karena Dia mengganggu cara mereka menjalani kehidupan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa Yesus sedang mengintervensi hidup Anda dan mengganggu cara hidup yang sedang Anda jalani? Pilihannya hanya dua jika itu terjadi, menerima Yesus dan mengikuti cara hidupnya, atau menolak Dia dan pergi. Tentukan pilihan Anda sekarang. (Greg Laurie/Harvest.org)
Seseorang menolak Yesus bukan karena mereka ragu akan ketuhanan Yesus, namun karena Dia mengusik gaya hidup mereka.

Minggu, 10 April 2011

Iman Yang Tidak Sempurna

Hakim-Hakim 6:27
Kemudian Gideon membawa sepuluh orang hambanya dan diperbuatnyalah seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya. Tetapi karena ia takut kepada kaum keluarganya dan kepada orang-orang kota itu untuk melakukan hal itu pada waktu siang, maka dilakukannyalah pada waktu malam.

Israel telah meninggalkan Allah yang hidup dan menyembah Baal dan ilah-ilah lain. Allah ingin memulihkan Israel, namun untuk proses pemulihan itu dapat terjadi Gideon diminta oleh Tuhan untuk meruntuhkan mezbah-mezbah yang dibangun bagi ilah-ilah palsu itu. Gideon mau taat pada Tuhan, namun ia juga takut kepada rakyat Israel. Akhirnya ia mengambil keputusan melakukan apa yang Tuhan perintahkan pada waktu malam.

Untuk taat kepada Tuhan, kadang kita terjegal oleh ketakutan. Namun untuk taat, tidak harus dimulai dengan menunggu iman yang sempurna. Kita harus mulai dengan apa yang ada pada kita. Seperti Gideon, imannya tidak sempurna. Namun dalam ketidak sempurnaannya, ia masih tetap dapat taat pada kehendak Tuhan.

Hari ini, apakah Anda telah mempercayai Allah sepenuhnya? Atau ada hal-hal lain dalam hati Anda yang masih menggantikan Allah? Jika masih ada, mari belajar seperti Gideon. Sekalipun masih ada ketakutan di dalam hatinya, ia menghancurkan semua baal itu. Percayalah, dalam iman kita yang tidak sempurna itu, Tuhan akan bekerja dan menyempurnakannya untuk membawa pemulihan dalam hidup kita sehingga kita mengalami kemerdekaan dari segala intimidasi iblis.

Untuk berjalan dalam ketaatan, kadang Anda tidak harus memiliki iman yang sempurna. Dalam ketidak sempurnaan kepercayaan Anda, Tuhan tetap dapat bekerja dengan sempurna.


Kamis, 07 April 2011

Mudahnya Hidup Dalam Kehendak Tuhan

1 Tesalonika 5:16-18
Bersukacitalah senantiasa.Tetaplah berdoa.Mengucap syukurlah dalam segala hal, 
sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Saya sering bertanya pada Tuhan, “Apa yang Kau kehendaki untuk aku kerjakan?” Saya membayangkan Tuhan berbicara pada saya dengan cara yang sensasional, mungkin itu dengan nubuatan, atau Tuhan berbisik kepada saya. Saya juga berpikir bahwa kehendak Tuhan bagi saya pasti sesuatu yang besar, yang artinya sesuatu yang rumit dan sulit.

Tetapi jika kita membaca 1 Tesalonika 5, saya menemukan bahwa kehendak Tuhan dalam hidup orang percaya itu sangat sederhana. Kita hanya diminta hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. Dalam surat kepada jemaat di Tesolonika ini Paulus menasihatkan untuk jemaat hidup dalam nilai-nilai kehidupan yang benar. Paulus menasihatkan untuk hidup dalam terang, berjaga-jaga dan menantikan kedatangan Tuhan, saling menghormati dan mengasihi, bersukacita, berdoa dan mengucap syukur dalam segala hal. Hal itulah yang Tuhan kehendaki bagi kita yang hidup di dalam Kristus Yesus.

Sangat sederhana bukan? Ya, namun bukan berarti mudah. Sebagai manusia kita suka sesuatu yang sulit dan rumit sehingga terlihat wah… Kesederhanaan bukanlah kata favorit kita. Sayangnya, itu adalah kata favorit Tuhan. Tuhan membuat segala sesuatu mudah dan sederhana. Dia memberikan keselamatan gratis, bukan karena usaha kita tapi kasih karunia. Dia meminta kita hidup dengan percaya kepada-Nya bukan dengan kekuatan kita. Dia ingin kita hidup dengan cara yang mudah, sederhana dan benar. Hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Itulah kehendak Allah bagi Anda dan saya. (Puji Astuti/Jawaban.com)

Kehendak Tuhan bagi kita itu sederhana dan mudah, hidup dalam kebenaran, bersukacita dan mengucap syukur dalam segala keadaan.


Jumat, 11 Maret 2011

Membuat Pilihan Yang Benar

Ulangan 30:19

Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu.

Wilma Rudolph, pemenang tiga medali emas dalam Olympiade tahun 1960 ini penah dikenal di lapangan lari sebagai wanita  pelari tercepat di dunia. Namun tahukah Anda bahwa ia pernah di vonis oleh dokter bahwa ia tidak akan pernah bisa berjalan lagi? Wilma adalah anak ke dua puluh dari 22 anak. Wilma dilahirkan dalam keadaan premature dalam sebuah keluarga miskin, dan ia tidak diijinkan menerima perawatan di rumah sakit kulit putih setempat.

Ia pernah berkata, “Para dokter mengatakan kepada saya bahwa saya tidak akan pernah berjalan lagi, tapi ibu saya mengatakan bahwa saya akan berjalan, jadi saya percaya pada ibu saya.” Wilma tepat memilih siapa yang bisa ia percayai. Selama beberapa tahun berikutnya, ibunya merawatnya dari banyak penyakit. Saat ia menderita polio, ibunya membawa dia dua kali seminggu selama dua tahun ke fasilitas medis yang mau merawatnya, pada hal jaraknya hampir delapan puluh setengah kilometer dari tempat tinggal mereka. Namun pilihan Wilma untuk percaya pada ibunya tidak sia-sia, terbukti ia bukan hanya bisa berjalan bahkan menjadi juara lari Olimpiade.

Seperti Wilma, setiap hari kita diperhadapkan pada pilihan untuk mempercayai apa yang dikatakan orang-orang di sekitar kita atau mempercayai Tuhan. Seperti Tuhan memperhadapkan pilihan pada bangsa Israel, Tuhan pun berharap agar kita memilih mempercayai Dia, memilih kehidupan supaya kita memperoleh kehidupan kekal itu dan juga segala kelimpahan yang Tuhan telah sediakan sebagai bonusnya. Namun semua itu kembali kepada setiap pribadi kita, apakah kita memilih kehidupan atau kematian? Tentukan pilihan Anda.
Pilihan-pilihan yang kita buat hari ini, akan menentukan kehidupan kita selanjutnya. Pastikan Anda membuat pilihan yang benar.

Kamis, 10 Maret 2011

Menjadi Domba Yang Setia

Yeremia 23:3-4

Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.
Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 70; Markus 14; Bilangan 23-24
Kesetiaan dan ketaatan, dalam dua hal ini kita sebagai manusia sulit untuk menjalankannya. Padahal seperti yang dituliskan oleh nabi Yeremia di atas, jika kita setia dan taat kepada Tuhan ada 3 berkat yang akan kita terima:
  1. Berlipat ganda.
  2. Tidak takut dan tidak terkejut oleh hal buruk yang datang
  3. Ada penjagaan yang sempurna
Apakah Anda ingin menerima berkat ini? Dalam firman Tuhan di atas, ada syarat yang harus Anda lakukan untuk bisa menerimanya. Tuhan telah mengangkat gembala-gembala atas kita domba-domba Tuhan. Taat dan setialah kepada gembala-gembala tersebut, selain kepada Gembala Agung kita Tuhan Yesus.
Jika kita tidak taat kepada gembala yang kelihatan, maka bagaimana kita bisa berkata taat dan setia kepada Gembala Agung kita yang tidak kelihatan oleh mata. Dan jika Anda tidak memiliki sikap penundukan diri ini, Anda akan melewatkan berkat yang indah tersebut.
Siapakah yang menjadi gembala yang Tuhan tempatkan dalam hidup Anda saat ini? Dia bisa jadi suami Anda, gembala di gereja Anda, dan juga pemimpin di perusahaan Anda. Merekalah yang Tuhan percayakan untuk menjadi penjaga Anda, jadi mari belajar taat dan setia kepada mereka, dan hormatilah mereka sebagaimana seharusnya.
Ada berkat dalam penundukan diri pada otoritas, yaitu pelipatgandaan, perlindungan dan rasa aman.

Jumat, 04 Maret 2011

Rahasia Masa Depan

Daniel 2:22

Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, 
Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya.

Ada seorang pria yang begitu kagum dengan sebuah mikroskop karena mampu memperlihatkan sel-sel yang terkecil dalam sebuah benda tertentu. Karena rasa kagum dan rasa ingin tahunya yang besar, ia akhirnya membelinya.

Karena iseng dan rasa ingin tahunya yang besar,  ia ingin melihat nasi yang siap disantap di piringnya di bawah mikroskop itu. Apa yang terlihat olehnya? Apa yang tadinya tak dapat dilihat oleh mata telanjang, kini menjadi sangat jelas. Ia melihat pemandangan yang sangat menjijikkan. Betapa tidak, makanan yang akan dinikmatinya, penuh dengan kuman. Piring dan sendoknya juga begitu. Penuh kuman. Melihat semua itu, ia tidak jadi makan karena takut.

Bagi manusia, hidup seperti misteri yang tak ada habisnya. Kita tak tahu apa yang terjadi esok. Konyolnya, banyak manusia ingin tahu apa yang bakal terjadi sampai-sampai mereka pergi ke tukang ramal dan dukun serta membaca horoskop. Tetapi apa yang terjadi ketika mereka tahu apa yang akan terjadi? Seringkali ketakutanlah yang akan datang.

Amsal 23:18 berkata, “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

” Hal tersebut kita alami jika kita menaruh masa depan kita di tangan Tuhan dan percaya bahwa Tuhan menyediakan hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11). (Renunganharian.wordpress.com)

Jika manusia tahu apa yang terjadi di hari esok, ia tidak pernah dapat menikmati hidup di hari ini


sumber: http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/main_daily_update/date/2011-03-05.htmlhttp://www.jawaban.com/index.php/spiritual/main_daily_update/date/2011-03-05.html

Gunung Horeb, Gunung Allah

Keluaran 3:1

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. 
Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, 
sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

Gunung Horeb, nama gunung ini berarti tandus, sebuah tempat yang ditelantarkan, mandul, dan kering. Selama 40 tahun Musa berada di daerah sekitar gunung Horeb setelah melarikan diri dari Mesir menggembalakan domba-domba. Saat itu Musa telah kehilangan segalanya, mimpi-mimpinya telah mati, dan ia kehilangan tujuan hidupnya.

Seperti yang sering dilakukan Tuhan terhadap berbagai rintangan dalam kehidupan seseorang, Tuhan mengubah gunung yang tandus ini menjadi gunung Allah. Kejadian ini menggambarkan kesanggupan Tuhan untuk memperbaiki, menyembuhkan, dan memunculkan kebaikan dari keburukan. Horeb tidak selalu mengerikan, Musa berjumpa dengan Tuhan menemukan panggilan hidupnya disana.
Gunung Horeb menggambarkan sifat paradoks Kerajaan Allah dalam kehidupan nyata – bahwa kebaikan dapat muncul dari keburukan, bahwa kita bisa menjadi pribadi yang paling kuat dalam kelemahan kita dan bahwa kehidupan bisa muncul setelah kematian.
Nabi Yoel berkata, “Baiklah orang yang tidak berdaya berkata: “Aku ini pahlawan!” (Yoel 3:10). Tuhan mengatakan kepada Rasul Paulus, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9). Satu hal yang perlu kita tanamkan dalam hati kita, bahwa dibalik kondisi seburuk apapun, Tuhan memiliki rencana yang indah atas hidup kita. Untuk itu, jangan pernah putus pengharapan!
Apapun yang terjadi dalam hidup Anda, Tuhan memiliki rencana yang indah dibaliknya.

Selasa, 01 Maret 2011

Doakanlah Pemimpin Anda

Ibrani 13:18

‘Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik.”

Saya adalah salah seorang pengagum rasul Paulus. Meski saya tidak hidup pada zamannya, tetapi kisah hidupnya dan tulisan-tulisannya yang diilhami oleh Roh Kudus membuat saya begitu tertarik dengan pria yang dahulu merupakan pemburu dan pembunuh orang-orang percaya.

Diantara banyak hal yang saya sukai dari rasul Paulus, saya menyukai sifat kerendahan hatiannya. Meski ia memiliki banyak pengalaman rohani dengan Tuhan dan memenangkan jiwa-jiwa, tetapi itu tidak membuatnya menjadi sombong. Pada beberapa bagian di dalam surat yang ditulisnya kepada jemaat, sangat jelas dan terbuka ia meminta doa dari jemaat yang disuratinya tersebut.

Paulus sadar bahwa ia adalah manusia biasa yang memerlukan bantuan jemaat-jemaat untuk menopang terus dirinya dan pelayanan yang sedang dikerjakannya. Ia tidak pernah meremehkan dukungan yang diberikan oleh orang-orang yang dilayaninya. Ia tahu dengan a
danya doa dari jemaat-jemaat, ia mendapatkan dukungan secara spiritual.

Pemimpin atau atasan Anda saat ini mungkin bukanlah seperti seorang rasul Paulus yang secara terbuka dan jujur mengakui bahwa dirinya memerlukan orang lain untuk memberikan kekuatan kepadanya, namun begitu janganlah lantas Anda menunjukkan sikap yang negatif. Berikanlah dukungan kepadanya lewat doa-doa yang Anda panjatkan kepada Tuhan. Curahkanlah berkat atas kehidupannya dan perkatakan hal-hal yang positif kepadanya. Yakinlah ketika Anda melakukan hal tersebut, Allah sedang mencurahkan rahmat-Nya kepada pimpinan Anda tersebut.

Lakukan ini terus menerus di dalam kehidupan Anda bukan atas dasar Anda menginginkan sesuatu dari Tuhan ataupun dari pemimpin Anda, akan tetapi melakukan ini sebagai bentuk ketaatan Anda kepada firman Tuhan.

Doa adalah salah satu bentuk dukungan paling positif dan nyata yang dapat Anda berikan kepada pimpinan Anda.



:)

Doa Menggerakkan Para Malaikat

Kisah Para Rasul 12:5

Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Dalam Kisah Para Rasul mencatat bagaimana Raja Herodes memenjarakan Rasul Petrus dan menjaganya dengan empat regu prajurit. Namun, mereka bukan tandingan bagi doa orang percaya. “Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” (Kisah Para Rasul 12:5). Anda tahu apa hasilnya?

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. (Ayat 6-7).

Dari cerita di atas kesimpulannya, ketika ada orang-orang berdoa Tuhan mengirimkan malaikatnya. Yesus berdoa di Taman Getsemani dan para malaikat datang melayani Dia (Lukas 22:43). Paulus berdoa di tengah badai, di tengah samudra raya dan Tuhan mengirimkan malaikat menjaganya (Kis 27:23).

Ketika Anda berdoa, Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk menolong Anda. Tidak perduli apa yang Anda hadapi, mereka siap untuk menolong Anda. Anda bisa bayangkan apa jadinya jika orang percaya tidak berdoa ketika menghadapi masalah? Banyak malaikat menganggur karena menunggu untuk diutus oleh Tuhan.

Anda memiliki kuasa sorgawi di dunia ini, saat Anda menekuk lutut Anda dan berdoa di hadapan Tuhan memohon pertolongan-Nya.

Doa Menggerakkan Para Malaikat

 Kisah Para Rasul 12:5
Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 59; Markus 3; Bilangan 1-2
Dalam Kisah Para Rasul mencatat bagaimana Raja Herodes memenjarakan Rasul Petrus dan menjaganya dengan empat regu prajurit. Namun, mereka bukan tandingan bagi doa orang percaya. “Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.” (Kisah Para Rasul 12:5). Anda tahu apa hasilnya?
Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. (Ayat 6-7).
Dari cerita di atas kesimpulannya, ketika ada orang-orang berdoa Tuhan mengirimkan malaikatnya. Yesus berdoa di Taman Getsemani dan para malaikat datang melayani Dia (Lukas 22:43). Paulus berdoa di tengah badai, di tengah samudra raya dan Tuhan mengirimkan malaikat menjaganya (Kis 27:23).
Ketika Anda berdoa, Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk menolong Anda. Tidak perduli apa yang Anda hadapi, mereka siap untuk menolong Anda. Anda bisa bayangkan apa jadinya jika orang percaya tidak berdoa ketika menghadapi masalah? Banyak malaikat menganggur karena menunggu untuk diutus oleh Tuhan.
Anda memiliki kuasa sorgawi di dunia ini, saat Anda menekuk lutut Anda dan berdoa di hadapan Tuhan memohon pertolongan-Nya.

Sabtu, 26 Februari 2011

Bukan Salahku

Amsal 28:13

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.

Banyak orang Amerika mengalami kegemukan (obesitas). Lucunya, ada yang menyalahkan restoran cepat saji se­ba­gai sumber masalah. Mereka menuntut pihak restoran bertanggung jawab, bah­kan mengajukan masalah ini ke pengadil­an. “Karena merekalah saya menjadi ge­muk, kena serangan jantung, dan dia­be­tes!” seru Caesar Barber, salah satu pem­­ro­tes. Begitu seringnya pihak restoran di­sa­lahkan, sampai-sampai pada 2004 keluar­lah Cheeseburger Bill—undang-undang yang melindungi industri makan­an cepat sa­ji dari tuntutan hukum akibat ulah kon­sumen yang kegemukan.

Kita cenderung menyalahkan orang lain atas kelalaian diri sendiri. Sama se­perti Raja Saul. Sebelum berperang, ia sa­dar bahwa upacara persembahan korban harus dilakukan oleh se­orang imam. Sang imam, Samuel, sudah berjanji akan datang hari itu (1 Samuel 10:8). 

Namun, Saul tidak sabar menunggu. Ia me­mimpin sendiri upacara itu. Dengan sengaja ia melanggar aturan Tuhan. Samuel datang setelah upacara selesai. Ditegurnya Saul. Apa jawab Saul? Pertama-tama ia menyalahkan situasi. “Rakyat ber­serakan meninggalkan saya. Saya terpojok!” Kedua, ia menyalahkan Samuel karena “tidak datang pada waktu yang ditentukan” (ayat 11). Padahal Samuel datang pada hari yang ditetapkan! Dengan menya­lah­kan orang lain dan situasi, Saul merasa diri benar, padahal apa yang ia lakukan sudah ditolak Tuhan. Ia juga mengambinghitamkan orang lain. Dosanya berlipat.

Jika Anda berbuat salah, jangan berkata: “Aku jadi begini gara-gara kamu!” 
Stop menuding orang lain. Akui kesalahan Anda dan segeralah memperbaiki diri. Itulah pertobatan sejati. (Juswantori Ichwan/Renunganharian.net)

Lebih baik mencari apa yang salah daripada mencari siapa yang salah.

Jumat, 25 Februari 2011

Tuhan Membela Penjahat?

Kejadian 4:15

Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.

Di kelas Sekolah Minggu, seorang anak bertanya mengapa Kain tetap dilindungi Tuhan setelah membunuh Habel. “Mengapa Tuhan membela penjahat?” Selama ini ia berpikir bahwa orang jahat tidak disayang Tuhan. 
Namun, mengapa Tuhan seolah-olah melindungi Kain dengan memperhitungkan pembalasan tujuh kali lipat bagi orang yang membunuhnya? Apakah benar Tuhan “bermain-main” dengan keadilan-Nya sendiri? Disatu sisi, Dia menyerukan keadilan, tetapi di sisi lain Dia seolah-olah “tidak adil” dengan melindungi seorang pembunuh seperti Kain. 
Jadi, bagaimana sebenarnya Tuhan memandang pendosa? Kisah Kain dan Habel jelas menyatakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari karya Tuhan atas umat-Nya. Seperti sekeping koin, sisi pertama adalah keadilan dan sisi lain adalah kasih. Dia menyatakan kasih dan keadilan secara bersamaan
Ada akibat dosa yang harus ditanggung Kain: ia diusir, menjadi pengembara yang harus bekerja ekstra keras untuk bertahan hidup. Namun, keadilan Tuhan selalu disertai kasih, yaitu dengan melindungi Kain dari orang yang akan membunuhnya
Kasih dan keadilan Tuhan berlaku dalam segala situasi
Maka, masalahnya bukan semata-mata “Tuhan membela penjahat”, tetapi Dia memberi kesempatan bagi orang sejahat apa pun untuk bertobat
Jika Tuhan berlaku demikian, sepantasnyalah kita memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berubah
Jangan menghakimi berdasar pengalaman masa lalu. Apalagi jika “masa hukuman” telah dijalani, terimalah kembali ia seutuhnya untuk memulai sesuatu yang baru. Tuhan pun setiap kali menerima diri kita kembali setelah kita mengaku dosa, bukan? (Renunganharian.net/Januari)

Mari belajar menerapkan keadilan dan kasih Tuhan: Benci dosanya, tetapi kasihilah orangnya.



Kamis, 24 Februari 2011

Tuhan Membela Penjahat?

Kejadian 4:15

Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.

Di kelas Sekolah Minggu, seorang anak bertanya mengapa Kain tetap dilindungi Tuhan setelah membunuh Habel. “Mengapa Tuhan membela penjahat?” Selama ini ia berpikir bahwa orang jahat tidak disayang Tuhan. Namun, mengapa Tuhan seolah-olah melindungi Kain de¬ngan memperhitungkan pembalasan tujuh kali lipat bagi orang yang membunuhnya? Apakah benar Tuhan “bermain-main” dengan keadilan-Nya sendiri? Di satu sisi, Dia menyerukan keadilan, tetapi di sisi lain Dia seolah-olah “tidak adil” dengan melindungi seorang pembunuh seperti Kain. Jadi, bagaimana sebenarnya Tuhan memandang pendosa? Kisah Kain dan Habel jelas menyatakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari karya Tuhan atas umat-Nya. Seperti sekeping koin, sisi pertama adalah keadilan dan sisi lain adalah kasih. Dia menyatakan kasih dan keadilan secara bersamaan. Ada akibat dosa yang harus ditanggung Kain: ia diusir, menjadi pengembara yang harus bekerja ekstra keras untuk bertahan hidup. Namun, keadilan Tuhan selalu disertai kasih, yaitu dengan melindungi Kain dari orang yang akan membunuhnya. Kasih dan keadilan Tuhan berlaku dalam segala situasi. Maka, masalahnya bukan semata-mata “Tuhan membela penjahat”, tetapi Dia memberi kesempatan bagi orang sejahat apa pun untuk bertobat. Jika Tuhan berlaku demikian, sepantasnyalah kita memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berubah. Jangan menghakimi berdasar pengalaman masa lalu. Apalagi jika “masa hukuman” telah dijalani, terimalah kembali ia seutuhnya untuk memulai sesuatu yang baru. Tuhan pun setiap kali menerima diri kita kembali setelah kita mengaku dosa, bukan? (Renunganharian.net/Januari)
Mari belajar menerapkan keadilan dan kasih Tuhan: Benci dosanya, tetapi kasihilah orangnya.

Rabu, 23 Februari 2011

Dianiaya Karena Sebuah Mimpi

Kejadian 37:5

Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada 
saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.

Mimpi yang Tuhan berikan dalam hidup Anda lebih dari sekedar sebuah peristiwa atau keberhasilan, hal itu adalah tentang Anda menggenapi maksud Tuhan menciptakan Anda. Dalam prosesnya, Tuhan membentuk hidup Anda hingga mimpi itu menjadi nyata. Namun fokus Tuhan bukanlah pada rencana-Nya yang menjadi kenyataan, namun Ia lebih tertarik Anda menjadi seperti apa ketika hal itu tergenapi.


Yusuf mendapatkan mimpi ketika berumur tujuh belas tahun, dan itu memberikannya sebuah pengharapan. Ia melihat saudara-saudaranya menyembah kepadanya, namun saat itu ia belum siap untuk mimpi itu. Untuk memurnikan motivasinya, Tuhan mengijinkan Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, kemudian difitnah oleh istri tuannya, dan menjalani belasan tahun di penjara tanpa pengharapan. Yusuf mengalami masa kesedihan dan kekecewaan yang panjang dalam kehidupannya. Namun karena ia terus menjalin hubungan dengan Tuhan, ia kuat menghadapinya.

Mimpi Yusuf diuji dengan dua cara: ketandusan dan penganiayaan. Ujian pertama berkaitan dengan hubungannya dengan Tuhan dan ujian keduanya berkaitan hubungannya dengan orang lain. Pada suatu saat di dalam perjalanan Anda dalam penggenapan mimpi Anda – Anda akan berjumpa dengan ujian-ujian. Anda juga harus menyelesaikan masalah-masalah dengan Allah dan dengan orang-orang yang ada disekitar kehidupan Anda.

Tuhan akan menggunakan impian yang ia beri kepada Anda untuk menguji Anda, karena Ia tertarik tentang Anda akan menjadi seperti apa daripada perwujudan mimpi Anda.

Selasa, 22 Februari 2011

Anda Ingin Jadi Pewaris Tahta?

Roma 8:17

Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Salah satu program televisi yang pernah populer di dunia adalah “Who Wants to Be a Millionaire?” Di Indonesia, acara ini pernah dipandu oleh Tantowi Yahya. Sasaran permainan ini sangat jelas, mereka yang ikut ingin menjadi millionaire, mereka ingin menjadi kaya mendadak. Suatu nasihat bagi orang-orang yang ingin mencoba permainan ini – jangan ikut jika Anda ingin hidup miskin, karena Anda mungkin saja menang dan merusak rencana Anda.

Demikian juga menjadi Anak Tuhan, Anda secara otomatis menjadi rekan pewaris Kerajaan Allah bersama dengan Kristus. Jangan menjadi anak Allah jika Anda tidak berminat dan ingin menggenapi rencana Tuhan yang sudah ditetapkan-Nya bagi Anda. Dalam hal ini, taruhannya adalah kekekalan dan upahnya warisan Anda – yang menanti setelah kehidupan ini.

Allah tidak memanggil kita untuk mati demi Dia, namun Ia memanggil kita untuk hidup dan memuliakan Dia melalui talenta, karunia dan urapan yang telah Ia berikan kepada kita. Seringkali kita gagal dalam mengenali, menjelaskan, menggambarkan dan mengambil tindakan tentang panggilan Allah ini. Kemudian, dalam waktu dua puluh tahun kedepan, kita hidup dalam pekerjaan-pekerjaan dan hal-hal yang tidak relevan dengan panggilan Allah dalam hidup kita. Tuhan tidak ingin Anda hidup dengan cara demikian. Anda harus meneladani Yesus, Ia memiliki misi dalam kehidupannya.

Jadi jika Anda hari ini merasa yakin bahwa Anda adalah anak Allah, ada sebuah rencana Allah yang besar yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidup Anda. Kenalilah, gambarkanlah dan buatlah tindakan untuk mencapainya.

Warisan Kerajaan Allah bagi kita adalah sumber daya yang kita butuhkan untuk menggenapi rencana Allah dalam hidup ini.


kiranya hari ini kita dapat mengenali lebih cepat dan pasti rencana Allah yang sudah ditetapkan dalam hidup kita. SEMANGAT1!!!

Senin, 21 Februari 2011

Peta Kehidupan

Yohanes 14:6

Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 53; Kisah Para Rasul 25; Imamat 16-17
Hari ini, jika Anda ingin bepergian ke sebuah kota yang Anda belum kenal daerahnya, tentu yang Anda cari pertama kali adalah peta kota tersebut. Anda tentu ingin tahu, bagaimana mencapai kota tersebut. Jalan mana saja yang harus Anda lalui, dan adakah tempat persinggahan dimana Anda bisa berhenti sejenak.
Untuk mencapai tujuan di dunia ini saja, kita dengan cermat mempelajari sebuah peta. Tetapi kita jarang berpikir dengan cara yang sama untuk mencapai tujuan sorgawi kita. Yesus berkata, “Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yohanes 14:4). Mengapa Yesus berkata demikian? Karena Dia telah menyediakan peta penunjuk jalan itu bagi kita, yaitu Alkitab. Pada buku kehidupan tersebut Anda bisa menemukan jalan kebenaran yang menuju sorga itu.
Jika Anda masih berpikir sebagaimana pribahasa yang berkata, “Banyak jalan menuju Roma,” disini saya mau tegaskan bahwa hanya ada satu jalan menuju sorga. Dengan tegas Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (14:6). Jangan mencoba jalan lain, karena jika Anda tersesat, mungkin saat Anda akan berbalik sudah tidak ada waktu lagi.
Alkitab adalah peta kehidupan Anda, dan Yesus adalah satu-satunya jalan kehidupan. Jangan salah memilih jalan.

Minggu, 20 Februari 2011

Allah Perjanjian

Kejadian 15:18
Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”

Manusia adalah pribadi yang sulit percaya dengan janji, mengapa? Karena sebagai manusia, mereka sendiri sering ingkar janji. Untuk itu, tidak mudah bagi seseorang mempercayai janji orang lain. Jangankan janji yang cuma diucapkan, janji yang tertulis dan memiliki kekuatan hukum saja sering diingkari. Jadi, jika Abraham sulit percaya janji Tuhan itu adalah sesuatu yang manusiawi.

Berlawanan dengan manusia, Tuhan sangat peduli dengan sebuah janji. Dikatakan dalam Mazmur 12:7 bahwa, “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” Tidak seperti manusia, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Itu sebabnya Dia disebut Allah perjanjian. Tuhan pun sangat menghargai orang-orang yang mempercayai janji-Nya dengan sepenuh hati. Seperti yang dituliskan dalam Alkitab, Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abraham sebagai kebenaran.

Kita sebagai orang Kristen seharusnya hidup seperti Abraham. Karena Alkitab sendiri adalah kitab perjanjian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jadi, kita hidup dalam janji-janji Tuhan. Dalam perjanjian, kedua belah pihak memiliki hak dan kewajiban. Satu hal yang pasti, Tuhan pasti akan melakukan hak dan kewajibannya. Namun kita sebagai orang percaya hanya akan menerima janji-janji tersebut jika melakukan hak dan kewajiban kita. Jadi, kita jangan menuntut Tuhan untuk menggenapi janjinya dalam hidup kita jika tidak melakukan bagian kita. Percayalah bahwa jika Anda melakukan bagian Anda, Tuhan pasti melakukan bagiannya. Janji itu pasti digenapi.

Jika Anda menuntut Tuhan menggenapi janji-Nya, Tuhan pun menuntut Anda melakukan bagian Anda, percaya kepada-Nya sepenuhnya.