Sabtu, 26 Februari 2011

Bukan Salahku

Amsal 28:13

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.

Banyak orang Amerika mengalami kegemukan (obesitas). Lucunya, ada yang menyalahkan restoran cepat saji se­ba­gai sumber masalah. Mereka menuntut pihak restoran bertanggung jawab, bah­kan mengajukan masalah ini ke pengadil­an. “Karena merekalah saya menjadi ge­muk, kena serangan jantung, dan dia­be­tes!” seru Caesar Barber, salah satu pem­­ro­tes. Begitu seringnya pihak restoran di­sa­lahkan, sampai-sampai pada 2004 keluar­lah Cheeseburger Bill—undang-undang yang melindungi industri makan­an cepat sa­ji dari tuntutan hukum akibat ulah kon­sumen yang kegemukan.

Kita cenderung menyalahkan orang lain atas kelalaian diri sendiri. Sama se­perti Raja Saul. Sebelum berperang, ia sa­dar bahwa upacara persembahan korban harus dilakukan oleh se­orang imam. Sang imam, Samuel, sudah berjanji akan datang hari itu (1 Samuel 10:8). 

Namun, Saul tidak sabar menunggu. Ia me­mimpin sendiri upacara itu. Dengan sengaja ia melanggar aturan Tuhan. Samuel datang setelah upacara selesai. Ditegurnya Saul. Apa jawab Saul? Pertama-tama ia menyalahkan situasi. “Rakyat ber­serakan meninggalkan saya. Saya terpojok!” Kedua, ia menyalahkan Samuel karena “tidak datang pada waktu yang ditentukan” (ayat 11). Padahal Samuel datang pada hari yang ditetapkan! Dengan menya­lah­kan orang lain dan situasi, Saul merasa diri benar, padahal apa yang ia lakukan sudah ditolak Tuhan. Ia juga mengambinghitamkan orang lain. Dosanya berlipat.

Jika Anda berbuat salah, jangan berkata: “Aku jadi begini gara-gara kamu!” 
Stop menuding orang lain. Akui kesalahan Anda dan segeralah memperbaiki diri. Itulah pertobatan sejati. (Juswantori Ichwan/Renunganharian.net)

Lebih baik mencari apa yang salah daripada mencari siapa yang salah.

Jumat, 25 Februari 2011

Tuhan Membela Penjahat?

Kejadian 4:15

Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.

Di kelas Sekolah Minggu, seorang anak bertanya mengapa Kain tetap dilindungi Tuhan setelah membunuh Habel. “Mengapa Tuhan membela penjahat?” Selama ini ia berpikir bahwa orang jahat tidak disayang Tuhan. 
Namun, mengapa Tuhan seolah-olah melindungi Kain dengan memperhitungkan pembalasan tujuh kali lipat bagi orang yang membunuhnya? Apakah benar Tuhan “bermain-main” dengan keadilan-Nya sendiri? Disatu sisi, Dia menyerukan keadilan, tetapi di sisi lain Dia seolah-olah “tidak adil” dengan melindungi seorang pembunuh seperti Kain. 
Jadi, bagaimana sebenarnya Tuhan memandang pendosa? Kisah Kain dan Habel jelas menyatakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari karya Tuhan atas umat-Nya. Seperti sekeping koin, sisi pertama adalah keadilan dan sisi lain adalah kasih. Dia menyatakan kasih dan keadilan secara bersamaan
Ada akibat dosa yang harus ditanggung Kain: ia diusir, menjadi pengembara yang harus bekerja ekstra keras untuk bertahan hidup. Namun, keadilan Tuhan selalu disertai kasih, yaitu dengan melindungi Kain dari orang yang akan membunuhnya
Kasih dan keadilan Tuhan berlaku dalam segala situasi
Maka, masalahnya bukan semata-mata “Tuhan membela penjahat”, tetapi Dia memberi kesempatan bagi orang sejahat apa pun untuk bertobat
Jika Tuhan berlaku demikian, sepantasnyalah kita memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berubah
Jangan menghakimi berdasar pengalaman masa lalu. Apalagi jika “masa hukuman” telah dijalani, terimalah kembali ia seutuhnya untuk memulai sesuatu yang baru. Tuhan pun setiap kali menerima diri kita kembali setelah kita mengaku dosa, bukan? (Renunganharian.net/Januari)

Mari belajar menerapkan keadilan dan kasih Tuhan: Benci dosanya, tetapi kasihilah orangnya.



Kamis, 24 Februari 2011

Tuhan Membela Penjahat?

Kejadian 4:15

Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.

Di kelas Sekolah Minggu, seorang anak bertanya mengapa Kain tetap dilindungi Tuhan setelah membunuh Habel. “Mengapa Tuhan membela penjahat?” Selama ini ia berpikir bahwa orang jahat tidak disayang Tuhan. Namun, mengapa Tuhan seolah-olah melindungi Kain de¬ngan memperhitungkan pembalasan tujuh kali lipat bagi orang yang membunuhnya? Apakah benar Tuhan “bermain-main” dengan keadilan-Nya sendiri? Di satu sisi, Dia menyerukan keadilan, tetapi di sisi lain Dia seolah-olah “tidak adil” dengan melindungi seorang pembunuh seperti Kain. Jadi, bagaimana sebenarnya Tuhan memandang pendosa? Kisah Kain dan Habel jelas menyatakan dua hal yang tak dapat dipisahkan dari karya Tuhan atas umat-Nya. Seperti sekeping koin, sisi pertama adalah keadilan dan sisi lain adalah kasih. Dia menyatakan kasih dan keadilan secara bersamaan. Ada akibat dosa yang harus ditanggung Kain: ia diusir, menjadi pengembara yang harus bekerja ekstra keras untuk bertahan hidup. Namun, keadilan Tuhan selalu disertai kasih, yaitu dengan melindungi Kain dari orang yang akan membunuhnya. Kasih dan keadilan Tuhan berlaku dalam segala situasi. Maka, masalahnya bukan semata-mata “Tuhan membela penjahat”, tetapi Dia memberi kesempatan bagi orang sejahat apa pun untuk bertobat. Jika Tuhan berlaku demikian, sepantasnyalah kita memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berubah. Jangan menghakimi berdasar pengalaman masa lalu. Apalagi jika “masa hukuman” telah dijalani, terimalah kembali ia seutuhnya untuk memulai sesuatu yang baru. Tuhan pun setiap kali menerima diri kita kembali setelah kita mengaku dosa, bukan? (Renunganharian.net/Januari)
Mari belajar menerapkan keadilan dan kasih Tuhan: Benci dosanya, tetapi kasihilah orangnya.

Rabu, 23 Februari 2011

Dianiaya Karena Sebuah Mimpi

Kejadian 37:5

Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada 
saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya.

Mimpi yang Tuhan berikan dalam hidup Anda lebih dari sekedar sebuah peristiwa atau keberhasilan, hal itu adalah tentang Anda menggenapi maksud Tuhan menciptakan Anda. Dalam prosesnya, Tuhan membentuk hidup Anda hingga mimpi itu menjadi nyata. Namun fokus Tuhan bukanlah pada rencana-Nya yang menjadi kenyataan, namun Ia lebih tertarik Anda menjadi seperti apa ketika hal itu tergenapi.


Yusuf mendapatkan mimpi ketika berumur tujuh belas tahun, dan itu memberikannya sebuah pengharapan. Ia melihat saudara-saudaranya menyembah kepadanya, namun saat itu ia belum siap untuk mimpi itu. Untuk memurnikan motivasinya, Tuhan mengijinkan Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya, kemudian difitnah oleh istri tuannya, dan menjalani belasan tahun di penjara tanpa pengharapan. Yusuf mengalami masa kesedihan dan kekecewaan yang panjang dalam kehidupannya. Namun karena ia terus menjalin hubungan dengan Tuhan, ia kuat menghadapinya.

Mimpi Yusuf diuji dengan dua cara: ketandusan dan penganiayaan. Ujian pertama berkaitan dengan hubungannya dengan Tuhan dan ujian keduanya berkaitan hubungannya dengan orang lain. Pada suatu saat di dalam perjalanan Anda dalam penggenapan mimpi Anda – Anda akan berjumpa dengan ujian-ujian. Anda juga harus menyelesaikan masalah-masalah dengan Allah dan dengan orang-orang yang ada disekitar kehidupan Anda.

Tuhan akan menggunakan impian yang ia beri kepada Anda untuk menguji Anda, karena Ia tertarik tentang Anda akan menjadi seperti apa daripada perwujudan mimpi Anda.

Selasa, 22 Februari 2011

Anda Ingin Jadi Pewaris Tahta?

Roma 8:17

Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Salah satu program televisi yang pernah populer di dunia adalah “Who Wants to Be a Millionaire?” Di Indonesia, acara ini pernah dipandu oleh Tantowi Yahya. Sasaran permainan ini sangat jelas, mereka yang ikut ingin menjadi millionaire, mereka ingin menjadi kaya mendadak. Suatu nasihat bagi orang-orang yang ingin mencoba permainan ini – jangan ikut jika Anda ingin hidup miskin, karena Anda mungkin saja menang dan merusak rencana Anda.

Demikian juga menjadi Anak Tuhan, Anda secara otomatis menjadi rekan pewaris Kerajaan Allah bersama dengan Kristus. Jangan menjadi anak Allah jika Anda tidak berminat dan ingin menggenapi rencana Tuhan yang sudah ditetapkan-Nya bagi Anda. Dalam hal ini, taruhannya adalah kekekalan dan upahnya warisan Anda – yang menanti setelah kehidupan ini.

Allah tidak memanggil kita untuk mati demi Dia, namun Ia memanggil kita untuk hidup dan memuliakan Dia melalui talenta, karunia dan urapan yang telah Ia berikan kepada kita. Seringkali kita gagal dalam mengenali, menjelaskan, menggambarkan dan mengambil tindakan tentang panggilan Allah ini. Kemudian, dalam waktu dua puluh tahun kedepan, kita hidup dalam pekerjaan-pekerjaan dan hal-hal yang tidak relevan dengan panggilan Allah dalam hidup kita. Tuhan tidak ingin Anda hidup dengan cara demikian. Anda harus meneladani Yesus, Ia memiliki misi dalam kehidupannya.

Jadi jika Anda hari ini merasa yakin bahwa Anda adalah anak Allah, ada sebuah rencana Allah yang besar yang sudah Tuhan tetapkan dalam hidup Anda. Kenalilah, gambarkanlah dan buatlah tindakan untuk mencapainya.

Warisan Kerajaan Allah bagi kita adalah sumber daya yang kita butuhkan untuk menggenapi rencana Allah dalam hidup ini.


kiranya hari ini kita dapat mengenali lebih cepat dan pasti rencana Allah yang sudah ditetapkan dalam hidup kita. SEMANGAT1!!!

Senin, 21 Februari 2011

Peta Kehidupan

Yohanes 14:6

Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 53; Kisah Para Rasul 25; Imamat 16-17
Hari ini, jika Anda ingin bepergian ke sebuah kota yang Anda belum kenal daerahnya, tentu yang Anda cari pertama kali adalah peta kota tersebut. Anda tentu ingin tahu, bagaimana mencapai kota tersebut. Jalan mana saja yang harus Anda lalui, dan adakah tempat persinggahan dimana Anda bisa berhenti sejenak.
Untuk mencapai tujuan di dunia ini saja, kita dengan cermat mempelajari sebuah peta. Tetapi kita jarang berpikir dengan cara yang sama untuk mencapai tujuan sorgawi kita. Yesus berkata, “Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yohanes 14:4). Mengapa Yesus berkata demikian? Karena Dia telah menyediakan peta penunjuk jalan itu bagi kita, yaitu Alkitab. Pada buku kehidupan tersebut Anda bisa menemukan jalan kebenaran yang menuju sorga itu.
Jika Anda masih berpikir sebagaimana pribahasa yang berkata, “Banyak jalan menuju Roma,” disini saya mau tegaskan bahwa hanya ada satu jalan menuju sorga. Dengan tegas Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (14:6). Jangan mencoba jalan lain, karena jika Anda tersesat, mungkin saat Anda akan berbalik sudah tidak ada waktu lagi.
Alkitab adalah peta kehidupan Anda, dan Yesus adalah satu-satunya jalan kehidupan. Jangan salah memilih jalan.

Minggu, 20 Februari 2011

Allah Perjanjian

Kejadian 15:18
Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat.”

Manusia adalah pribadi yang sulit percaya dengan janji, mengapa? Karena sebagai manusia, mereka sendiri sering ingkar janji. Untuk itu, tidak mudah bagi seseorang mempercayai janji orang lain. Jangankan janji yang cuma diucapkan, janji yang tertulis dan memiliki kekuatan hukum saja sering diingkari. Jadi, jika Abraham sulit percaya janji Tuhan itu adalah sesuatu yang manusiawi.

Berlawanan dengan manusia, Tuhan sangat peduli dengan sebuah janji. Dikatakan dalam Mazmur 12:7 bahwa, “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” Tidak seperti manusia, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Itu sebabnya Dia disebut Allah perjanjian. Tuhan pun sangat menghargai orang-orang yang mempercayai janji-Nya dengan sepenuh hati. Seperti yang dituliskan dalam Alkitab, Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abraham sebagai kebenaran.

Kita sebagai orang Kristen seharusnya hidup seperti Abraham. Karena Alkitab sendiri adalah kitab perjanjian, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jadi, kita hidup dalam janji-janji Tuhan. Dalam perjanjian, kedua belah pihak memiliki hak dan kewajiban. Satu hal yang pasti, Tuhan pasti akan melakukan hak dan kewajibannya. Namun kita sebagai orang percaya hanya akan menerima janji-janji tersebut jika melakukan hak dan kewajiban kita. Jadi, kita jangan menuntut Tuhan untuk menggenapi janjinya dalam hidup kita jika tidak melakukan bagian kita. Percayalah bahwa jika Anda melakukan bagian Anda, Tuhan pasti melakukan bagiannya. Janji itu pasti digenapi.

Jika Anda menuntut Tuhan menggenapi janji-Nya, Tuhan pun menuntut Anda melakukan bagian Anda, percaya kepada-Nya sepenuhnya.

Sabtu, 19 Februari 2011

Ketika Yesus Betah Tinggal Bersama Anda

Yohanes 12:1-2
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.

Jika Anda berkunjung ke tempat-tempat terkenal di berbagai belahan dunia, Anda akan menemukan berbagai tanda yang menyatakan bahwa seseorang pernah lahir, hidup atau melewati tempat tersebut. Sebagai contoh, di Amerika Anda akan menemukan tanda “Ini tempat lahir Presiden Lincoln” atau “Lokasi pertempuran Gettysburg”. Tanda itu memiliki satu tujuan, yaitu memberitahu bahwa sebuah peristiwa bersejarah pernah terjadi di sana.

Salah satu kota bersejarah yang ditulis di Alkitab adalah Betania. Mengapa? Kota ini adalah tempat tiga orang bersaudara tinggal, Maria, Marta, dan Lazarus. Yesus sering berkunjung dan tinggal di rumah mereka, karena tiga bersaudara itu sangat mengasihi Yesus dan selalu melayani-Nya dengan tulus ketika berkunjung.
Salah satu mukjizat yang Yesus lakukan di Betania adalah membangkitkan Lazarus. Namun kehadiran Yesus di rumah Maria dan Marta tidak hanya memberkati keluarga mereka saja, tentunya orang-orang di kota itu pasti mengalami banyak mukjizat, karena Alkitab menyatakan bahwa tidak semua mukjizat yang Yesus lakukan dicatat (Yohanes 21:25).

Betania menjadi kota yang diberkati karena ada orang-orang yang mau menerima dan memberi tempat bagi Yesus untuk tinggal di kota itu. Bukankah hal ini indah jika terjadi dalam hidup kita? Bayangkan apa yang akan terjadi dalam hidup Anda, keluarga Anda, komunitas Anda, jika Yesus bertamu dan tinggal di rumah Anda? Pasti banyak mukjizat terjadi, keluarga Anda penuh dengan damai sejahtera, lingkungan Anda menjadi sebuah lingkungan yang diberkati.

Kabar baiknya, hal itu bukan hanya bisa Anda bayangkan, namun juga bisa Anda alami. Caranya sangat mudah, undanglah Yesus menjadi Tuhan dan juru selamat dalam hidup Anda. Persilahkan Yesus yang menjadi pemimpin hidup dan keluarga Anda
Dengan cara demikian, Yesuslah yang berdaulat atas hidup Anda. Jangan berhenti sampai di sana, bangunlah hubungan yang intim dengan-Nya setiap hari. Jadilah pemburu Tuhan dan pelayan sesama, dengan demikian Anda mengalami mukjizat Tuhan setiap hari.
Ingin mengalami mukjizat Tuhan setiap hari? Buatlah Tuhan Yesus betah tinggal di dalam “rumah” Anda.

Jumat, 18 Februari 2011

Sumber Berkat

1 Raja-raja 17:3-4
"Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana."

Selama masa kelaparan, Tuhan memberi Elia perintah yang jelas, dengan mengatakan, “Pergilah ke tepi sungai Kerit… burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi engkau makan di sana.” Tuhan mengatakan tempat kemana Elia harus pergi secara spesifik sehingga ia menerima penyediaan Tuhan. Mungkin jika Elia tidak memperdulikan perintah Tuhan dam memilih pergi ke tempat lain, ia tidak akan mendapat pertolongan Tuhan.
Ketika Elia mengira sudah mengetahui semua hal tentang Tuhan, tiba-tiba sungai mulai mongering dan burung-burung gagak berhenti mengantarkan makanan baginya. Ada satu hal yang perlu digaris bawahi dalam hal ini, satu-satunya alasan Tuhan mengijinkan semua itu terjadi adalah agar Elia tidak terfokus pada berkat tapi fokus pada sumber berkat itu. Demikian juga dengan kita, jangan fokus pada tangan Tuhan, tapi arahkan wajah Anda pada wajah Tuhan.
Hal selanjutnya yang harus kita pelajari dari kisah Elia di atas adalah jangan jatuh cinta dengan suatu metode dan melupakan bahwa Tuhan adalah sumber berkat Anda dan Dia sanggup menggunakan berbagai cara. Sungai dan burung bukanlah sumber berkat Elia, Tuhanlah sumbernya. Hal ini Elia pelajari saat dia diperintahkan meninggalkan sungai Kerit dan pergi kerumah janda di Sarfat. Bagaimana dengan Anda dan saya hari ini? Apapun yang kita butuhkan hari ini, mari kita tanamkan dalam hati kita bahwa Tuhanlah sumber berkat kita.
Jangan mematok cara Tuhan memberkati Anda, Dia punya banyak cara bahkan yang tidak pernah Anda pikirkan

Kamis, 17 Februari 2011

Jika Tuhan Yang Membuka Pintu

Mazmur 124:8
Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

Kehilangan kehendak Tuhan menghasilkan konsekuensi yang berat. Saya yakin Anda lebih aman berperang dalam peperangan yang ada dalam kehendak Tuhan daripada menghabiskan seharian di pantai tapi di luar kehendak Tuhan.

Perkataan ini mungkin sering Anda dengar, “Jika Tuhan menutup satu pintu, Ia akan membukakan pintu lain.” Itu benar, tetapi Anda tidak mau menunggu terlalu dilorong menunggu Tuan membukakan pintu lain bukan? Untuk itu, ketika Tuhan menutup satu pintu dan Anda berdiri menunggu di lorong untuk satu pintu lain dibukakan, rindukanlah dengan lapar dan haus tuntunan Tuhan. Firman Tuhan berkata, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;” (Mazmur 37:23).

Kepekaan yang Tuhan taruh dalam hidup Anda akan menuntun Anda menuju ke pintu selanjutnya melalui koneksi Kerajaan Allahorang yang tepat, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat. Belajarlah peka akan suara hati Anda yang merupakan alat Tuhan untuk berbicara langsung dengan Anda, sehingga Anda bisa mengalami penyediaan adikodrati yang sudah Tuhan siapkan.

Demikian juga sebaliknya, Tuhan ingin memakai Anda sebagai koneksi Kerajaan Allah bagi orang lain. Orang yang peka sehingga berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk menyatakan pertolongan Tuhan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Tuhan dapat memakai hidup Anda untuk menjadi terang bagi mereka yang dalam kegelapan.

Jika satu pintu tertutup bagi Anda, percayalah bahwa Tuhan selalu punya cara untuk membukakan sebuah pintu lain bagi Anda.

Rabu, 16 Februari 2011

Menyingkapkan Kemuliaan

2 Korintus 4:6
Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Ada sebuah kisah tentang seorang pria yang membeli sebuah lukisan murah seharga beberapa dolar di pasar loak. Sewaktu ia tiba di rumah dan memandangi lukisan itu dengan cermat, ia mendapati bahwa kanvas itu jauh kelihatan lebih tua dari lukisan itu sendiri. Akhirnya ia memerikasa lebih jauh lukisan tersebut, sehingga terungkap bahwa ada sebuah lukisan lain, yaitu karya seni yang lebih tua pada lukisan tersebut.

Akhirnya lukisan yang lebih baru tersebut dengan sangat hati-hati dikelupas hingga karya seni yang ada dibaliknya terungkap. Ketika lukisan itu dibawa kepada seorang kurator, terungkap bahwa lukisan tersebut adalah karya pelukis ulung dari Eropa dan dihargai beberapa juta dolar. Sesuatu yang sebelumnya seperti tidak bernilai dan berharga murah, namun setelah rahasia itu disingkapkan ternyata sangat berharga dan mahal.

Seperti pria di atas, Tuhan juga ingin menyingkapkan apa yang tidak berharga pada diri kita sehingga apa yang mulia dan berharga itu muncul dan dilihat oleh banyak orang. Kita adalah karya mulia dari Maestro, yaitu Tuhan. Namun seringkali karya mulia itu tertutup dibawah intimidasi, ketakutan, keputusasaan, rendah diri dan berbagai sikap buruk. Akhirnya, kemuliaan Tuhan itu tidak pernah terlihat dan terbenam serta dipandang rendah.

Namun hari ini, Tuhan ingin membersihkan semua hal-hal buruk itu, hal ini terjadi ketika kita menerima firman-Nya dan melakukannya (Yohanes 15:3). Sebab hanya oleh firman Tuhanlah hidup kita dibersihkan, sehingga kemuliaan Tuhan itu dapat muncul dan banyak orang bisa melihatnya dan diberkati.

Kemuliaan itu hanya akan muncul ketika semua kotoran disingkirkan, ijinkan Tuhan membersihkan hidup Anda.




Senin, 14 Februari 2011

Saling Mengasihi

Yohanes 13:35
Dengan demikian semua orang akan tahu, 
bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

Mengasihi, itulah perintah Tuhan yang utama. Yesus memberikan perintah ini, “Supayakamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34-35).

Namun perintah untuk saling mengasihi ini berbeda dengan arti kasih yang ada dan dikenal orang pada umumnya. Kasih yang Tuhan perintahkan berbeda dengan kasih orangtua dengan anak, kasih antara saudara ataupun kasih asmara dengan pasangan. Tuhan memerintahkan kita sama seperti Ia telah mengasihi kita. Sebuah kasih yang tidak menuntut, namun memberi.

Yesus sendiri meneladankan kasih yang Ia ajarkan, Ia mengasihi kita orang yang berdosa. Orang yang tidak layak di kasihi, namun Dia rela mati disalibkan untuk menebus dosa kita.

Hari ini, mari kita nyatakan kasih sayang yang tulus kepada sesama kita, sama seperti Yesus Kristus telah mengasihi kita.

Kasih ditunjukkan dengan kerendahan hati. Kasih yang sejati tidak menuntut, namun memberi.



Jumat, 11 Februari 2011

Melayani Dengan Cinta

Yohanes 13:14-15

“Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”


Di dalam natur kita sebagai manusia, kita cenderung lebih suka untuk dilayani daripada melayani.
Sama seperti murid-murid Yesus, kita lebih suka menjadi yang terbesar daripada menjadi yang terkecil. Hal ini disebabkan karena manusia sejak kejatuhannya dalam dosa telah dipenuhi oleh kesombongan

Yesus datang ke dunia ini dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dunia yang dipenuhi oleh kesombongan. Walaupun Dia merupakan anak Allah, Raja dari segala Raja tetapi Dia rela dilahirkan di kandang domba yang hina dan mati disalib laksana seorang penjahat. Yesus memberikan teladan sebagai seorang pemimpin sejati yang lebih suka melayani daripada dilayani.

Memikul salib dan penyangkalan diri (kehendak) akan menghasilkan kematian terhadap diri sendiri. Bukti nyata dari seseorang yang telah mengalami kematian terhadap diri sendiri adalah timbulnya kerinduan untuk melayani orang lain. Semakin seseorang mati terhadap dirinya maka ia semakin rindu untuk melayani orang lain. Dr. Ravi Zacharias berkata, “Kita begitu mudah mengklaim hak-hak kita sampai-sampai kita mengubur tuntutan yang memanggil kita untuk melayani”. Konflik yang terjadi dalam sebuah rumah tangga umumnya ditimbulkan karena masing-masing pihak lebih menuntut haknya untuk dilayani daripada melayani. Suami dan isteri masing-masing maunya menang sendiri dan tidak mau mengalah. Jika keduanya terus bertahan dengan keegoannya maka konflik tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Lalu komunikasi menjadi terganggu dan bila tidak terjadi pemberesan maka bisa mengarah kepada perceraian.

Bila hubungan kita dengan orang lain tidak di dalam Tuhan pasti akan berakhir dengan kekecewaan. Hal ini disebabkan setiap manusia memiliki naluri untuk mencari kepuasan melalui hubungan dengan sesamanya. Padahal tidak ada seorang pun manusia yang dapat memberikan kepuasan penuh kepada orang lain. Hanya hubungan dengan Tuhan yang dapat memberikan kepuasan sejati kepada manusia. Hanya orang yang telah menemukan kepuasan sejati melalui hubungan dengan Kristus mampu melayani dengan cinta yang sejati.

Oleh karena itu hal utama yang perlu kita kejar dalam hidup ini adalah mengalami kepenuhan Allah sehingga lewat itu hidup kita akan benar-benar dipuaskan. Dari kepuasan itu akan lahir sebuah pelayanan yang dilandasi oleh cinta bukan kewajiban. Yesus berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Hanya manusia yang telah menerima kasih dari Kristus yang mampu memberikan kasih yang tanpa syarat itu. Terimalah cinta-Nya dan layanilah orang lain dengan cinta ituSunanto Choa/Glorianet.org

Untuk dapat melayani dengan cinta, Anda harus bersedia untuk menyerahkan ego Anda ditangan Tuhan.





Senin, 07 Februari 2011

Kasih Yang Semakin Dingin

Kasih Yang Semakin Dingin


Matius 24:12
Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.
 


Di bulan Februari ini, kata cinta dan kasih begitu familiar terdengar. Tentu Anda tahu apa sebabnya, karena di bulan Februari ini ada sebuah hari bernama hari kasih sayang atau yang populer disebut hari Valentine.

Namun sungguh disayangkan, hari-hari ini kata kasih sayang dan cinta yang tulus tidak mudah ditemukan. Hati banyak orang telah membeku, karena fokus kehidupan telah beralih kepada diri sendiri, mereka mencintai diri sendiri.

Kita sering berpikir bahwa mengasihi itu adalah pilihan, pada hal mengasihi adalah sebuah perintah. Yesus berkata, " Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Dan kita pun tidak dimintai hanya mengasihi mereka yang mengasihi kita saja, namun juga dimintai mengasihi musuh kita. Mengapa? Karena "jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka." (Lukas 6:32).

Untuk itu mari "kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat." (ay 35).

Mengasihi bukanlah sebuah pilihan, itu adalah sebuah perintah. Jadi marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan, tapi dengan tindakan nyata. 


saya:Kiranya dpt mengasihi seperi kasih TUHAN YESUS kepada SAYA,, yang tak pernah menuntut balasan.

Sabtu, 05 Februari 2011

Sanggup Mengubah Hati

Sanggup Mengubah Hati


Amsal 21:1
Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini.”

Seorang teman pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang seorang dosen senior di tempat dimana kami berkuliah dahulu. Kata ia, jika saya diajarkan oleh beliau dan berbuat salah sekali saja kepada beliau maka dipastikan nilai mata kuliah saya akan buruk. Menurutnya, orang yang berbuat salah kepada dosen tersebut akan terus diingat dan kelulusannya akan dipersulit. Ketika pembicaraan itu berlangsung, saya masih kuliah di tingkat II & belum pernah diajar sama sekali oleh dosen senior tersebut.

Singkat cerita, sampailah saya ke tingkat III kuliah saya. Ketika saya membaca jadwal mata kuliah yang saya ambil, mata saya terperangah ketika dosen senior yang dikatakan oleh teman saya tersebut ternyata mengajar di kelas saya. Jujur, saya cukup ketakutan. Saya ngeri ketika beliau mengajar saya, saya berbuat kesalahan dan itu membuat saya tidak dapat lulus dari kampus sesuai target.

Benar apa yang ditulis di alkitab tentang ketakutan bahwa semakin kita takut, maka ketakutan itu akhirnya yang terjadi ke dalam hidup kita. Pada satu sesi acara perkuliahan dosen senior tersebut dimana saat itu saya dan teman-teman satu kelas diharuskan untuk mengumpulkan tugas, saya tidak masuk ke kelas. Alasan saya tidak masuk adalah karena saya terlambat. Biasanya, sang dosen tidak pernah memperbolehkan mahasiswanya yang telat, dapat masuk ke kelas. Bagaimanapun dibujuk, beliau tidak akan mengizinkannya. Atas pengetahuan itulah, saya pun mengambil keputusan untuk berada di luar kelas.

Namun, keputusan saya saat itu ternyata membawa malapetaka. Ketika kuliah selesai hari itu dan saya ingin mengumpulkan tugas kepada beliau, dengan nada yang sedikit ketus, beliau menolak tugas yang saya buat. Beliau mengatakan ia tidak akan menerima tugas yang dikumpulkan oleh mahasiswanya setelah jam ia mengajar berakhir. Mendengar itu, saya sedikit sedih karena saya tahu jika tugas ini tidak diterima beliau maka nilai saya untuk mata kuliah tersebut hancur lebur.

Saya pun beranjak dari ruangannya dan pulang ke kosan. Di kosan, saya berdoa kepada Tuhan. Memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat. Saya juga memohon kepada-Nya agar dibukakan jalan keluar bagi persoalan yang saya hadapi dan meminta Dia melembutkan hati dosen tersebut.

Satu hari, satu minggu, dua minggu, saya tidak melihat ada tanda-tanda doa saya terjawab. Akan tetapi, saya terus memercayai pekerjaan Tuhan. Hingga pada satu suatu hari, seorang asisten dosen mendatangi saya dan mengatakan agar saya menaruh tugas saya ke meja dosen senior tersebut. Saya cukup kaget mendengarnya karena sebelum-sebelumnya, beliau telah menolak tugas saya. Akan tetapi, saya menuruti perkataan asisten dosen itu.

Waktu pun berjalan. Ujian Akhir Semester telah berlalu dan saatnyalah saya melihat nilai-nilai dari mata kuliah yang saya ambil. Ketika saya melihat di komputer nilai mata kuliah saya, saya begitu kaget karena nilai mata kuliah yang diajar oleh dosen senior itu ternyata cukup bagus. Saya mengucap syukur kepada Tuhan. Saya percaya kalau bukan karena DIA yang bekerja di dalam hati beliau, nilai saya hancur lebur dan saya tidak akan dapat lulus dengan tepat waktu.

Allah yang Anda dan saya sembah adalah Allah yang besar. DIA sanggup melakukan apa yang tidak pernah bisa kita lakukan. Di dalam kitab Amsal tertulis, ‘hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini.”

Jika Anda saat ini mengalami persoalan dengan orang-orang otoritasnya di atas Anda, datanglah kepada Allah. Naikkan doa kepada-Nya dan mintalah agar DIA melembutkan hati mereka. PERCAYALAH, ketika Engkau melakukan hal tersebut, Allah akan bekerja di dalam kehidupan orang-orang yang Anda doakan itu dan membuat hati mereka menjadi seperti yang Anda doakan selama ini.

Jika Allah sanggup melembutkan hati seorang raja, DIA juga pasti dapat melembutkan hati atasan Anda.

sumber:

AMIEN

Kamis, 03 Februari 2011

Lambat

Lambat


2 Petrus 3:9
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian.


Jika ada kontes tentang sifat baik yang terpopuler, saya menduga bahwa "paling cepat" akan mengalahkan "paling baik". Banyak tempat di dunia tampaknya terobsesi dengan kecepatan. Namun, kesukaan "bertindak cepat" tidak selalu menyebabkan adanya kemajuan yang cepat.

"Tiba saatnya menghadapi obsesi kita yang ingin mengerjakan segala sesuatu dengan lebih cepat," kata Carl Honore dalam bukunya In Praise of Slowness (Memuja Kelambatan). "Kecepatan tidak selalu menjadi kebijakan terbaik."

Menurut Alkitab, Honore benar. Petrus mengingatkan bahwa di hari-hari terakhir, orang meragukan Allah karena tampaknya Dia lambat ("lalai") menggenapi janji-Nya untuk datang kembali. Namun, Petrus menunjukkan bahwa yang tampaknya dianggap sebagai kelambatan ini merupakan hal yang baik. Allah sebenarnya sedang menunjukkan kesabaran-Nya dengan memberikan lebih banyak waktu bagi kita untuk bertobat (2 Petrus 3:9), dan juga sesuai dengan karakter-Nya sebagai Allah yang sabar atau lambat untuk marah (Keluaran 34:6).

Kita juga harus lambat untuk marah—dan lambat untuk berkata-kata (Yakobus 1:19). Menurut Yakobus, "kecepatan" hanya berlaku bagi telinga kita. Kita seharusnya lebih cepat mendengar. Pikirkan betapa banyak masalah yang dapat dihindari bila kita belajar mendengar—sungguh-sungguh mendengar, bukan hanya berhenti bicara—sebelum kita mulai berkata-kata.

Di antara ketergesaan kita untuk memenuhi tujuan dan tenggang waktu, marilah kita cepat untuk mendengar dan lambat untuk marah dan lambat untuk berkata-kata. —JAL/RBC Indonesia

Kecepatan tidak selalu menghasilkan sesuatu yang baik, kadang Anda perlu untuk melakukan sesuatu dengan lambat, seperti lambat untuk marah dan berkata-kata.