Selasa, 26 April 2011

Proses Pengudusan

1 Petrus 1:15-16
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu samAa seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Dalam 1 Petrus 1:16 dituliskan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ini adalah sebuah perintah diluar kemampuan kita! Tapi itulah yang Tuhan ingin lakukan dalam hidup kita – menjadikan kita kudus. Rencana besar-Nya dapat disimpulkan dalam satu kata: pengudusan. Ini adalah proses tiga tahap dimana Dia telah menetapkan kita bagi rencana-Nya.

Tahap satu adalah saat kita diselamatkan. Ketika Tuhan menyatakan kita kudus, kita pada dasarnya kudus. Tahap  kedua adalah pertumbuhan mengarah pada tujuan yang sudah Tuhan tetapkan. Proses ini akan berlangsung seumur hidup kita.
Dari mulanya Tuhan membentuk kita segambar dengan Anak-Nya, dan Dia terus membentuk kita baik tingkah laku, karakter dan juga percakapan kita. Meskipun Tuhan adalah satu-satunya yang akan menyelesaikan proses transformasi ini, kita memiliki tanggung jawab dalam proses ini. Jika kita tidak bekerja sama dengan-Nya, dunia lah yang akan membentuk kehidupan kita, dan kita akan melewatkan rencana Tuhan yang besar.
Tahap tiga pengudusan kita adalah saat kita mengalami kekudusan mutlak. Hal ini terjadi saat kita mengalami kematian fisik, jiwa dan roh kita dibebaskan dari dosa dan dalam kebangkitan, tubuh kita akan disempurnakan. Kita akan berdiri dalam keadaan sempurna, tidak bercacat di hadapan Kristus.
Jika kita bisa melihat sekilas saja, kita tidak akan pernah mengeluh atau menggerutu ketika kita menghadapi pengudusan dalam hidup ini. Arahkan mata kita pada tujuan akhir kita, jadikan motivasi utama kita untuk memuliakan Tuhan dengan menyerahkan hidup kita di tangan-Nya untuk Ia ubahkan.
Hidup kudus bukannya sesuatu yang mustahil, bersama Yesus kita akan dikuduskan menjadi serupa dengan rupa dan gambar-Nya.

Kamis, 21 April 2011

Perjamuan Kudus

I Korintus 11:27-28
Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

Matius pasal 26 menceritakan salah satu acara paling terkenal dalam sejarah manusia dan juga acara makan bersama paling terkenal, Perjamuan Terakhir.

Ketika semua murid sudah duduk bersama, Yesus berkata, “"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (ayat 27-28).
Yesus, seperti yang sering Ia lakukan, berbicara secara simbolis. Mengatakan sesuatu secara langsung tidak sesuai dengan perumpamaan yang sering Ia gunakan. Setelah itu, Yesus berkata bahwa Dialah Roti Kehidupan. Dan tidakkah Ia pernah mengatakan bahwa Dialah pintu?

Jadi, apakah kita orang Kristen berkeras bahwa Yesus adalah benar-benar roti dan pintu? Tentu saja tidak. Kita tidak berkeras bahwa roti dan anggur itu benar-benar secara nyata adalah darah dan daging Yesus. Tidak ada bukti bahwa terjadi sesuatu yang supranatural terjadi proses perubahan atas isi cawan itu berubah menjadi darah-Nya dan roti menjadi daging-Nya.

Oleh karena itu, ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, jangan dibingungkan dengan apa yang terwakili olehnya. Kita tidak perlu berpikir bahwa roti adalah daging dan anggur mengandung darah.

Namun di lain sisi, kita jangan merendahkan Perjamuan Kudus dengan meremehkannya. Jelas Alkitab memperingatkan kita untuk menyadari pentingnya Perjamuan Kudus (Lihat 1 Korintus11:23-30).

Roti  dan anggur bukanlah suatu unsur suci, namun hal itu mewakili unsur suci. Jadi lakukanlah dengan penuh penghormatan dan resapilah ketika melakukan Perjamuan Kudus. Sadarilah bahwa apa yang Anda lakukan adalah sebuah pengingat akan apa yang Yesus lakukan bagi kita ketika Ia disalibkan.  Dengan darah yang tercurah dan dagingnya yang tercabik-cabik itu, setiap dosa, sakit dan penderitaan kita telah ditanggungnya. Anggur dan roti itu adalah pengingat bahwa Tuhan begitu mengasihi kita sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya siapa yang percaya pada-Nya tidak binasa.
Roti dan anggur yang kita makan dan minum saat perjamuan kudus adalah pengingat bahwa seorang pribadi telah mati bagi kita.

Selasa, 19 April 2011

Jangan Buat Yesus Menangis Lagi

Lukas 19:41-42

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya:
"Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Yesus memasuki Yerusalem dengan kemegahan, orang-orang merayakannya. Mereka tertawa. Mereka senang. Mereka mengalami waktu yang indah. Lalu apa yang Yesus lakukan? Dia melihat kota itu, dan Dia menangisi-Nya. Ditengah kerumunan itu, yang menggila, dan Yesus menangisinya. Kerumunan itu bersukacita, dan Kristus terisak-isak.

Mengapa Yesus menangis ketika melihat Yerusalem? Sebagai Tuhan yang maha tahu, Yesus tahu bahwa orang-orang yang sedang bersorak, “Hosana!” ini akan dengan segera berteriak, “Salibkan Dia!” Dia tahu bahwa salah satu murid-Nya, Yudas, akan mengkhianati-Nya. Dia tahu murid-Nya yang lain, Petrus, akan menyangkal Dia. Dia tahu bahwa Kayafas, imam besar itu, akan berkonspirasi dengan Pilatus,  Gubernur Roma, untuk membunuh Dia. Dan, Dia tahu masa depan Yerusalem. Melihat 40 tahun kemudia, Dia melihat kehancuran akan terjadi pada kota itu di tangan Kaisar Titus dan tentara Romawinya.

Yesus juga menangis karena masa pelayanan-Nya akan segera selesai. Waktu begitu singkat. Dia telah menyembuhkan penyakit mereka. Dia telah membangkitkan orang mati. Dia telah mentahirkan orang kusta. Dia telah memberi makan orang lapar. Dia telah mengampuni dosa mereka. Namun dalam sebagian besar waktunya, Dia ditolak. Yohanes 1:11 berkata, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” Jadi Dia menangis. Hal itu menghancurkan hatinya, dan hal ini masih terjadi.

Ketidak percayaan dan penolakan menghancurkan hati Tuhan, karena Dia tahu akibatnya. Tetapi ketika hati manusia tertutup, Dia menolak masuk secara paksa. Dia hanya akan mengetuk pintu hati itu, menunggu untuk diijinkan masuk. Dia memberi kita kemampuan untuk memilih. Tetapi ketika kita salah memilih sesuatu, Dia tahu dampak yang akan mengikutinya – baik dalam hidup ini dan juga yang akan datang. Dan hatinya hancur karenanya. (Greg Laurie/Harvest.og)

Setiap pilihan buruk yang kita buat, Yesus menangis karena hati-Nya hancur melihat umat yang Ia kasihi harus mengalami konsekuensi yang buruk.

Rabu, 13 April 2011

Menyukai Kegelapan

Yohanes 3:19
Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.

Orang Farisi tidak meragukan Yesus karena mereka tidak setuju dengannya. Mereka meragukan Yesus karena mereka dengan keras menentang-Nya.

Keraguan adalah tentang pikiran. Bahkan orang Kristen mengalami masa-masa keraguan. Kita tidak selalu mengerti mengapa Tuhan melakukan sesuatu atau mengapa Dia melakukannya. Ketidakpercayaan, sangat kontras, ini adalah masalah kehendak. Ini adalah pilihan yang kita buat.

Orang Farisi penuh dengan ketidakpercayaan. Mereka tidak menolak Yesus karena kurangnya bukti atau karena Dia tidak konsisten dengan apa yang Dia katakana. Faktanya adalah bahwa Yesus adalah contoh yang sempurna. Bahkan Pontius Pilatus berkata, “Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini.” (Lukas 23:4) dan “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” Yudas Iskariot, murid yang menghabiskan waktu 3 tahun bersama Yesus dan mengkhianati Dia berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” (Matius 27:4). Jadi, bisa dikatakan bahwa Yesus adalah model dari segala sesuatu yang Ia katakan.
Orang Farisi menolak Yesus karena menginterfensi cara hidup mereka. Dan itulah alasan mengapa mereka menolak Dia saat ini. Yesus berkata, “Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;” (Yohanes 3:19-20)

Seseorang menolak Yesus bukan karena telah melakukan penelitian dengan cermar bukti dan menemukan bahwa bukti itu tidak cukup meyakinkan. Mereka menolaknya tidak karena membaca ayat Alkitab dan menemukan beberapa kontradiksi. Mereka menolaknya tidak karena menemukan beberapa orang munafik di gereja. Mereka menolak Yesus karena Dia mengganggu cara mereka menjalani kehidupan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda merasa Yesus sedang mengintervensi hidup Anda dan mengganggu cara hidup yang sedang Anda jalani? Pilihannya hanya dua jika itu terjadi, menerima Yesus dan mengikuti cara hidupnya, atau menolak Dia dan pergi. Tentukan pilihan Anda sekarang. (Greg Laurie/Harvest.org)
Seseorang menolak Yesus bukan karena mereka ragu akan ketuhanan Yesus, namun karena Dia mengusik gaya hidup mereka.

Minggu, 10 April 2011

Iman Yang Tidak Sempurna

Hakim-Hakim 6:27
Kemudian Gideon membawa sepuluh orang hambanya dan diperbuatnyalah seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya. Tetapi karena ia takut kepada kaum keluarganya dan kepada orang-orang kota itu untuk melakukan hal itu pada waktu siang, maka dilakukannyalah pada waktu malam.

Israel telah meninggalkan Allah yang hidup dan menyembah Baal dan ilah-ilah lain. Allah ingin memulihkan Israel, namun untuk proses pemulihan itu dapat terjadi Gideon diminta oleh Tuhan untuk meruntuhkan mezbah-mezbah yang dibangun bagi ilah-ilah palsu itu. Gideon mau taat pada Tuhan, namun ia juga takut kepada rakyat Israel. Akhirnya ia mengambil keputusan melakukan apa yang Tuhan perintahkan pada waktu malam.

Untuk taat kepada Tuhan, kadang kita terjegal oleh ketakutan. Namun untuk taat, tidak harus dimulai dengan menunggu iman yang sempurna. Kita harus mulai dengan apa yang ada pada kita. Seperti Gideon, imannya tidak sempurna. Namun dalam ketidak sempurnaannya, ia masih tetap dapat taat pada kehendak Tuhan.

Hari ini, apakah Anda telah mempercayai Allah sepenuhnya? Atau ada hal-hal lain dalam hati Anda yang masih menggantikan Allah? Jika masih ada, mari belajar seperti Gideon. Sekalipun masih ada ketakutan di dalam hatinya, ia menghancurkan semua baal itu. Percayalah, dalam iman kita yang tidak sempurna itu, Tuhan akan bekerja dan menyempurnakannya untuk membawa pemulihan dalam hidup kita sehingga kita mengalami kemerdekaan dari segala intimidasi iblis.

Untuk berjalan dalam ketaatan, kadang Anda tidak harus memiliki iman yang sempurna. Dalam ketidak sempurnaan kepercayaan Anda, Tuhan tetap dapat bekerja dengan sempurna.


Kamis, 07 April 2011

Mudahnya Hidup Dalam Kehendak Tuhan

1 Tesalonika 5:16-18
Bersukacitalah senantiasa.Tetaplah berdoa.Mengucap syukurlah dalam segala hal, 
sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Saya sering bertanya pada Tuhan, “Apa yang Kau kehendaki untuk aku kerjakan?” Saya membayangkan Tuhan berbicara pada saya dengan cara yang sensasional, mungkin itu dengan nubuatan, atau Tuhan berbisik kepada saya. Saya juga berpikir bahwa kehendak Tuhan bagi saya pasti sesuatu yang besar, yang artinya sesuatu yang rumit dan sulit.

Tetapi jika kita membaca 1 Tesalonika 5, saya menemukan bahwa kehendak Tuhan dalam hidup orang percaya itu sangat sederhana. Kita hanya diminta hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. Dalam surat kepada jemaat di Tesolonika ini Paulus menasihatkan untuk jemaat hidup dalam nilai-nilai kehidupan yang benar. Paulus menasihatkan untuk hidup dalam terang, berjaga-jaga dan menantikan kedatangan Tuhan, saling menghormati dan mengasihi, bersukacita, berdoa dan mengucap syukur dalam segala hal. Hal itulah yang Tuhan kehendaki bagi kita yang hidup di dalam Kristus Yesus.

Sangat sederhana bukan? Ya, namun bukan berarti mudah. Sebagai manusia kita suka sesuatu yang sulit dan rumit sehingga terlihat wah… Kesederhanaan bukanlah kata favorit kita. Sayangnya, itu adalah kata favorit Tuhan. Tuhan membuat segala sesuatu mudah dan sederhana. Dia memberikan keselamatan gratis, bukan karena usaha kita tapi kasih karunia. Dia meminta kita hidup dengan percaya kepada-Nya bukan dengan kekuatan kita. Dia ingin kita hidup dengan cara yang mudah, sederhana dan benar. Hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Itulah kehendak Allah bagi Anda dan saya. (Puji Astuti/Jawaban.com)

Kehendak Tuhan bagi kita itu sederhana dan mudah, hidup dalam kebenaran, bersukacita dan mengucap syukur dalam segala keadaan.