Minggu, 16 Desember 2012

Menjelang Hari Tuhan Yang Mendekat

Matius 24:44
Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Beberapa tahun terakhir Indonesia sangat rawan dengan bencana alam. Masih segar diingatan kita bagaimana tsunami menghantam Aceh, gempa dasyat menggoncang kota Padang. Menghadapi berbagai bencana itu, akhirnya diikembangkan sistem peringatan dini terhadap bencana alam. Tidak berhenti pada sistem peringatan dini, masyarakat pun dilatih untuk melakukan simulasi ketika mendengar peringatan bahaya.
Bencana alam memang tidak bisa kita duga kapan datangnya, sebab itu kita dituntut untuk waspada. Tahukah Anda bahwa Tuhan menuntut kita memiliki kewaspadaan yang serupa dalam hal rohani, bahkan mungkin lebih waspada dari menghadapi bencana alam. Yesus berkata : "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." Matius 24:42Perintah Yesus untuk kita berjaga-jaga bukanlah untuk menakuti kita, atau membuat kita seperti fenomena saat ini dimana sebagian orang yang pergi ke tempat-tempat tertentu untuk menunggu kiamat.

Sebaliknya, Yesus meminta kita waspada menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali, agar kita semakin giat bekerja mengemban tugas yang Ia berikan. Ia berkata "berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." Matius 24:46.  Janji kedatangan-Nya seharusnya memacu kita untuk semakin giat untuk mengemban Amanat Agung, dengan demikian kita dapat menyenangkan hati Tuan kita.
Akhir zaman atau kiamat bukanlah garis akhir bagi orang percaya, tetapi sebuah estafet menuju sebuah kehidupan yang baru. Untuk itu jangan hadapi dengan ketakutan, tetapi hadapilah dengan kegairahan dan sukacita sambil giat bekerja bagi Tuhan kita.

Mari jaga kewaspadaan kita menjelang hari Tuhan yang mendekat, kuatkan iman, dan makin giatlah bekerja bagi Kristus.

sumber: 

Jumat, 14 Desember 2012

Jangan Biarkan Iblis Sukses

Yohanes 8:42
Kata Yesus kepada mereka: 
"Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.


Dalam banyak hal Iblis berhasil menipu dan memprovokasi manusia untuk berpikir dan merasa bahwa Allah senang memperbudak manusia sehingga banyak manusia berusaha hidup saleh dan senang dengan tindakan-tindakan yang agamawi. Atau sebaliknya di tempat lain banyak manusia yang memilih untuk hidup bebas dan membenci agama.
Semua itu dibuat Iblis supaya manusia terperangkap dalam kegelapan sehingga manusia tidak dapat bersekutu/bersahabat dengan Allah. Ketika manusia tidak bersekutu dengan Allah, manusia tidak bisa menjadi maksimal seperti yang Allah kehendaki.
Karena itu seperti yang kita ketahui bersama banyak manusia yang sulit untuk menerima kenyataan kalau Allah menjadi manusia dan hidup bersahabat dengan orang berdosa. Hal itu terlihat jelas dari keseluruhan pasal delapan dalam kitab Yohanes, dimana kebanyakan orang yang saleh dan taat beragama justru membenci Yesus, Anak Tunggal Allah.
Tahukah Anda kalau dari zaman ke zaman Iblis sukses menggunakan fakta dan kenyataan untuk menyesatkan pikiran dan perasaan manusia. Iblis/Setan selalu berusaha mengambil atau mencuri kebahagiaan dan potensi manusia dengan dusta dan dakwaannya. Seperti yang dikatakan oleh Yesus bahwa dari sejak semula Iblis memang membenci manusia dan berkeinginan untuk membunuh manusia. (Yohanes 8:44)
Jika demikian masihkah Anda membiarkan kesuksesan Iblis? Kalau Anda mau mengalahkan Iblis maka ini saatnya gereja Tuhan bersatu dan bekerja sama dengan Roh Kudus untuk menceritakan siapakah Yesus Kristus itu dan memberitakan kepada teman dan keluarga kita kalau Allah adalah Bapa yang baik yang rindu untuk bersahabat dengan mereka.

Kristus Yesus sudah memerdekakan kita, jadi bersukacitalah dan manfaatkanlah kemerdekaan itu untuk berkarya dan melayani pekerjaan TUHAN


Kamis, 13 Desember 2012

Anugerah Dan Belas Kasihan

Lukas 2:14
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.

Sebuah surat dari seorang prajurit Inggris saat Perang Dunia I mengungkap sebuah kisah yang akan menjadi kisah Natal terfenomenal sepanjang sejarah. Saat itu malam Natal 1914. Pasukan Inggris dan Jerman saling berhadapan dalam pertempuran sengit. Namun di malam itu tiba-tiba tampak sebuah pemandangan aneh ketika dari parit tempat pasukan Jerman bersembunyi terlihat cahaya berkelap-kelip dengan sangat indahnya. Ternyata orang Jerman telah menempatkan Pohon Natal di depan parit mereka, diterangi lilin dan lentera di sepanjang parit.

Tak lama kemudian terdengar tentara Jerman menyenandungkan sebuah lagu, "Stille nach, Heilige nacht..." Lagu tersebut belumlah akrab di telinga beberapa tentara Inggris kala itu dan mereka yang mengenali lagu tersebut langsung menerjemahkan arti nyanyian yang ternyata adalah lagu Silent Night. Lagu tersebut menjadi sebuah lagu yang terasa jauh lebih bermakna di tengah medan perang yang gelap dan dingin.

Ketika lagu selesai dinyanyikan, tentara Inggris bertempik sorak untuk tentara Jerman. Kemudian salah seorang tentara Inggris mulai menyanyikan lagu The First Noel yang langsung disambut tentara Inggris lainnya. Tentara Jerman balik bertepuk tangan untuk tentara Inggris. Malam itu tentara Inggris dan Jerman silih berganti menyanyikan lagu Natal dalam bahasa mereka masing-masing. Tentara Inggris dan Jerman memperdengarkan harmonisasi dari lagu Natal yang indah di tanah tak bertuan, di malam yang dingin, di tengah perang yang sedang memanas. Namun apa yang terjadi kemudian jauh lebih menakjubkan.

Mereka sepakat untuk melakukan gencatan senjata hingga tengah malam berikutnya. Beberapa menit kemudian, di tanah tak bertuan ini, lebih dari seratus tentara dan perwira di masing-masing pihak saling berjabat tangan padahal beberapa jam sebelumnya mereka masih berusaha saling membunuh. Bahkan mereka yang tidak dapat berkomunikasi saling bertukar hadiah. Para tentara yang tadinya saling bermusuhan ini kemudian berkumpul di api unggun dan kembali menyanyikkan lagu Natal bersama-sama yang ditutup dengan lagu Auld Lang Syne, dan berjanji untuk kembali bertemu esok hari.

Sebuah keajaiban Natal yang patut menjadi bahan perenungan. Apa yang menyebabkan dua tentara yang berlawanan, berjuang sampai mati demi negaranya, meletakkan senjata mereka dan saling berpelukan sebagai teman? Semuanya hanya karena anugerah dan belas kasihan. Anugerah dan belas kasihan yang sama yang hadir di hati manusia pertama kali melalui kelahiran dan kematian Yesus dua ribu tahun yang lalu.

Anugerah, bicara tentang kebebasan dan perkenanan yang tidak seharusnya kita terima namun telah diberikan Tuhan kepada kita sebagai hadiah. Sedangkan belas kasihan bicara tentang kasih yang panjang sabar, akan kebaikan dan pengampunan Tuhan, meskipun sesungguhnya kita layak untuk menerima hukuman. Tentu saja Bapa Sorgawi adalah teladan terbaik dari pemberi anugerah dan kasih karunia.

Semoga setiap kita dapat mengikuti teladan dari Bapa Sorgawi kita, dan seperti tentara Inggris dan Jerman di pedesaan yang dilanda perang dingin di Belgia, melebarkan anugerah dan belas kasihan kepada setiap pribadi sehingga kita dapat menjalani kehidupan dengan penuh damai sejahtera.
Saat anugerah dan belas kasihan berjalan beriringan dan mengetuk hati manusia, kebencian sirna dan pengampunan yang mengalir melahirkan damai sejahtera.