Sabtu, 12 Desember 2015

Kebahagiaan Sejati.

Mazmur 49

Banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan diperoleh ketika seseorang kaya raya atau punya kedudukan tinggi. Namun tidaklah demikian menurut bani Korah, kumpulan pemazmur dari mazmur 49 ini. Dalam mazmur 49, pemazmur mengungkapkan pemahamannya tentang kehidupan (2-5). Pertama, status semua orang itu sederajat di hadapan Tuhan (2-3). Orang yang hina, yang mulia, yang kaya, yang miskin, semuanya dipanggil untuk memperhatikan pesan dari firman Tuhan. Kedua, semua orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dengan harta atau pun kekuatannya sendiri (8-10). "Tidak ada seorangpun dapat membebaskan dirinya atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya dan tidak memadai untuk selama-lamanya" (8-9). Ketiga, semua orang pada akhirnya akan mengalami kematian (11-15, 17-20). Karena itulah, kekayaan sebesar apapun tidak dapat menghindarkan seseorang dari kematian.

Jika semua tampak sama saja dan harta kekayaan tidak dapat berdampak banyak bagi hidup kita, lalu apa yang dapat membuat kita berbahagia? Pemazmur menjawabnya di ayat 16, "Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku." Ini artinya, kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, bukan pula pada umur yang panjang, melainkan di dalam Tuhan yang menyelamatkan kita dari cengkeraman maut.

Pertanyaannya adalah, sudahkah anda mengenal dan mengalami keselamatan yang terdapat di dalam Tuhan Yesus, Juruselamat dunia? Carilah kebahagiaan hidupmu bukan pada kekayaan materi atau kedudukan tinggi, melainkan di dalam Dia yang menyelamatkanmu jiwamu. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati hanya ada di dalam Dia. [MFS]

Minggu, 11 Oktober 2015

Jangan Membiarkan Diri Disesatkan!

2 Tesalonika 2:1-12

Sebuah dongeng anak-anak menceritakan seorang anak kecil yang berteriak kepada orang-orang di desanya, bahwa ada serigala yang datang menyerang. Ketika penduduk desa berdatangan, ternyata anak tersebut hanya bercanda. Di lain waktu, ketika si anak ini berteriak lagi, maka penduduk desa menganggap itu hanya sebuah candaan. Anak ini belajar sebuah fakta yang menyakitkan: "berhati-hatilah dalam melontarkan candaanmu."

Jemaat Tesalonika sedang dibingungkan oleh beberapa pengajar yang menyandarkan ajaran mereka kepada ilham roh, ataupun kutipan (yang tidak utuh) dari para rasul (1-2). Rasul Paulus menegur sikap anggota jemaat yang mudah dibingungkan oleh pengajaran palsu. Apa ciri pengajaran palsu? Yakni ketika ajaran tersebut membawa kita tidak lagi melihat kepada Allah dan kemuliaan-Nya, melainkan kepada upaya-upaya untuk meninggikan diri (3-5).

Dalam ayat 9, Paulus menguraikan bahwa si pendurhaka akan datang dengan berbagai macam perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat. Tujuan utamanya menyesatkan umat percaya agar iman mereka tidak lagi diarahkan kepada Kristus, melainkan hanya kepada apa yang tampak di hadapan mereka.

Menghadapi para penyesat, pertanyaan kita adalah: Dimana kekuasaan Allah? Mengapa Allah tidak bertindak? Kita jangan lupa, bahwa orang percaya adalah ciptaan baru (2Kor 5:17). Ciri utama ciptaan baru ini adalah pola pikir yang tidak menggunakan kriteria dunia, tetapi mengutamakan Kristus sebagai teladan dan acuan (2Kor 5:16). Allah tetap berkuasa bahkan ketika para penyesat ini ?untuk sementara diijinkan? untuk bekerja. Tetapi akan datang masanya dimana Kristus akan menghanguskan mereka dengan ?nafas mulut-Nya? (8).

Sebagai orang yang dipilih, dipanggil, dan dimurnikan oleh Firman Kebenaran, kita diundang untuk terus-menerus meletakkan Kristus sebagai yang utama dalam pikiran, sikap, dan hidup kita. Ini artinya firman Kebenaran Allah dijadikan landasan hidup dan tolok ukur dari kehidupan kita. [IBS]

Selasa, 10 Februari 2015

Berdoalah!

Lukas 11:1-13

Berdoa merupakan suatu langkah yang sederhana. Namun memiliki dampak yang besar. Sayangnya tidak sedikit orang Kristen yang mengabaikan hal ini. Sehingga banyak orang percaya yang pesimis terhadap doa, sehingga enggan berdoa.

Yesus merespons permintaan para murid agar diajarkan berdoa dengan memberikan doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Melaluinya, kita belajar unsur-unsur mendasar dari doa yang benar. Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah (2). Hal yang sering diabaikan atau mungkin tidak diketahui oleh orang percaya, yaitu memberikan pujian kepada Allah melalui doa. Sering doa hanya dipahami sebagai ungkapan keluh kesah hati semata, atau hanya sebagai sarana untuk menyampaikan daftar pergumulan dan keinginan kita. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa menunjukkan kesadaran kita akan siapa Tuhan, siapa kita.

Kedua, doa juga berisikan permohonan (3). "Berikanlah kami...yang secukupnya." Tuhan mengajar kita agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk dihambur-hamburkan. Ia menjamin bahwa ketika kita meminta maka Ia akan memberikan sesuai dengan kehendak-Nya (9-10). Ketiga, doa juga berisikan ungkapan pertobatan (4). Dalam doa kita mengakui pelanggaran dan dosa kita, tanpa perantara dan langsung kepada Allah. Bagian ini menuntut kejujuran dan keterbukaan kita pada-nya, sehingga dengan begitu Ia akan mengalirkan kasih dan pengampunan-Nya pada kita.

Keempat, berdoalah seolah kita sedang berbicara pada seorang sahabat (5-8). Tanpa mengurangi penghormatan kita pada Allah, Tuhan mengajar kita untuk berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat kita, ada kedekatan, keakraban dan tanpa kecanggungan. Kelima, berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya (11-13). Hubungan itu tentu memiliki ikatan emosional yang tinggi. Seorang bapak pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Demikian pula dengan Allah Bapa tentu juga akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Mari berdoa!

SABDA.org

Senin, 09 Februari 2015

Memprioritaskan Yang Utama

Lukas 10:38-42

Kepadatan aktivitas dan kesibukan kerja bisa merupakan penghalang untuk kita memiliki waktu bersekutu dengan Tuhan. Bahkan juga merupakan salah satu alasan bagi kemunduran rohani seseorang. Jam-jam doa dan perenungan firman Tuhan tergerus oleh padatnya jadwal harian yang kadang malah kehilangan makna dan tujuannya.

Marta mengalami hal yang demikian, ia menyibukkan dirinya dengan melayani Yesus yang singgah di rumahnya (38-39). Bahkan karena kesibukannya yang melelahkan ini, ia sempat protes pada Yesus karena saudaranya, Maria yang sama sekali tidak membantunya (39). Tuhan malah menilai tindakan Marta hanya menyusahkan diri sendiri.

Maria sama sekali tidak memperdulikan kesibukan Marta. Ia memilih untuk duduk dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Sekalipun Marta memprotesnya justru tindakan Maria dikomentari Yesus sebagai "memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya"(42).

Hal apa yang dapat menjadi pelajaran bagi kita? Pertama, kesibukan kita, apa pun jenisnya, termasuk kesibukan melayani Tuhan (40), dapat menjadi "pembunuh" waktu kebersamaan kita dengan Tuhan. Bukan berarti melayani Tuhan itu suatu yang buruk, namun jika itu menjadi penghambat hubungan kita dengan Tuhan maka merupakan hal yang membahayakan bagi kehidupan rohani kita. Jangan-jangan yang kita lakukan lebih melayani kebutuhan diri sendiri untuk eksis.

Kedua, duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya harus menjadi prioritas hidup orang percaya. Karena ini merupakan hal yang utama, Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Justru dari duduk mendengarkan Tuhan, kita dapat memiliki pelayanan yang diperbarui sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bukan untuk motivasi lainnya.

Mari kita meneladani Maria yang memprioritaskan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan.Baik dalam waktu teduh pribadi kita, ataupun dalam persekutuan dengan saudara seiman.

Sumber Renungan Santapan Harian 2015/02/10_Selasa_

Minggu, 01 Februari 2015

Yesus Menerima Orang Berdosa

Lukas 7:36-50


Bila seorang perempuan tidak datang ke rumah seorang Farisi bernama Simon, mungkin perjamuan makan yang dia adakan bagi Yesus, akan berlangsung biasa-biasa saja. Tidak dijelaskan alasan Simon mengundang Yesus makan, mungkin untuk berdiskusi.

Namun kisahnya menjadi berbeda ketika seorang perempuan yang dikenal berdosa, datang ke perjamuan makan itu (37). Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tindakannya bermakna lebih dari beribu kata. Mungkin orang yang ada di situ melihat dengan pandangan ngeri ketika perempuan berdosa itu mendekati Yesus. Dan mata semakin terbelalak ketika perempuan itu menangis di kaki Yesus, menyeka kaki Yesus dengan rambutnya, mencium kaki Yesus, dan meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang dia bawa (38). Karena Yesus mendiamkan perempuan berdosa itu bertindak demikian, Simon mengira bahwa Yesus tidak tahu siapa sesungguhnya perempuan itu. Bila tidak tahu, tentu Dia bukan nabi.

Membaca pikiran Simon, Yesus pun menyampaikan perumpamaan tentang dua orang yang berhutang, lalu karena tidak sanggup membayar maka hutang kedua orang itu pun dihapuskan (40-43). Keduanya tentu berterima kasih kepada orang yang memiutangi mereka, tetapi rasa terima kasih yang lebih besar tentu akan datang dari orang yang hutangnya lebih besar. Ketika Allah mengampuni seorang yang berdosa besar maka orang itu pun akan memiliki rasa syukur yang sangat besar. Namun Yesus bukan sedang berkata bahwa tindakan perempuan itulah yang menyelamatkan dia. Melainkan kasih dan pengampunanlah yang membuat perempuan itu merasa diterima Allah sehingga membuat dia bertindak demikian. Jadi imanlah yang mengarahkan tindakannya (50).

Yesus tahu bahwa seorang pendosa dapat berubah bila ia mau menerima kasih Allah. Bapa di surga pun bersedia mengampuni dosa bila pendosa mau berbalik kepada-Nya. Maka jangan simpan-simpan dosa-dosa Anda, sebesar apapun. Terbukalah pada Allah dan mintalah pengampunan-Nya, niscaya Ia mengampuni Anda. Lalu nyatakanlah syukur Anda.



sumber: Santapan Harian /Jumat, 2015/January/23