Sabtu, 12 Desember 2015

Kebahagiaan Sejati.

Mazmur 49

Banyak orang beranggapan bahwa kebahagiaan diperoleh ketika seseorang kaya raya atau punya kedudukan tinggi. Namun tidaklah demikian menurut bani Korah, kumpulan pemazmur dari mazmur 49 ini. Dalam mazmur 49, pemazmur mengungkapkan pemahamannya tentang kehidupan (2-5). Pertama, status semua orang itu sederajat di hadapan Tuhan (2-3). Orang yang hina, yang mulia, yang kaya, yang miskin, semuanya dipanggil untuk memperhatikan pesan dari firman Tuhan. Kedua, semua orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dengan harta atau pun kekuatannya sendiri (8-10). "Tidak ada seorangpun dapat membebaskan dirinya atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya dan tidak memadai untuk selama-lamanya" (8-9). Ketiga, semua orang pada akhirnya akan mengalami kematian (11-15, 17-20). Karena itulah, kekayaan sebesar apapun tidak dapat menghindarkan seseorang dari kematian.

Jika semua tampak sama saja dan harta kekayaan tidak dapat berdampak banyak bagi hidup kita, lalu apa yang dapat membuat kita berbahagia? Pemazmur menjawabnya di ayat 16, "Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku." Ini artinya, kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, bukan pula pada umur yang panjang, melainkan di dalam Tuhan yang menyelamatkan kita dari cengkeraman maut.

Pertanyaannya adalah, sudahkah anda mengenal dan mengalami keselamatan yang terdapat di dalam Tuhan Yesus, Juruselamat dunia? Carilah kebahagiaan hidupmu bukan pada kekayaan materi atau kedudukan tinggi, melainkan di dalam Dia yang menyelamatkanmu jiwamu. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati hanya ada di dalam Dia. [MFS]

Minggu, 11 Oktober 2015

Jangan Membiarkan Diri Disesatkan!

2 Tesalonika 2:1-12

Sebuah dongeng anak-anak menceritakan seorang anak kecil yang berteriak kepada orang-orang di desanya, bahwa ada serigala yang datang menyerang. Ketika penduduk desa berdatangan, ternyata anak tersebut hanya bercanda. Di lain waktu, ketika si anak ini berteriak lagi, maka penduduk desa menganggap itu hanya sebuah candaan. Anak ini belajar sebuah fakta yang menyakitkan: "berhati-hatilah dalam melontarkan candaanmu."

Jemaat Tesalonika sedang dibingungkan oleh beberapa pengajar yang menyandarkan ajaran mereka kepada ilham roh, ataupun kutipan (yang tidak utuh) dari para rasul (1-2). Rasul Paulus menegur sikap anggota jemaat yang mudah dibingungkan oleh pengajaran palsu. Apa ciri pengajaran palsu? Yakni ketika ajaran tersebut membawa kita tidak lagi melihat kepada Allah dan kemuliaan-Nya, melainkan kepada upaya-upaya untuk meninggikan diri (3-5).

Dalam ayat 9, Paulus menguraikan bahwa si pendurhaka akan datang dengan berbagai macam perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat. Tujuan utamanya menyesatkan umat percaya agar iman mereka tidak lagi diarahkan kepada Kristus, melainkan hanya kepada apa yang tampak di hadapan mereka.

Menghadapi para penyesat, pertanyaan kita adalah: Dimana kekuasaan Allah? Mengapa Allah tidak bertindak? Kita jangan lupa, bahwa orang percaya adalah ciptaan baru (2Kor 5:17). Ciri utama ciptaan baru ini adalah pola pikir yang tidak menggunakan kriteria dunia, tetapi mengutamakan Kristus sebagai teladan dan acuan (2Kor 5:16). Allah tetap berkuasa bahkan ketika para penyesat ini ?untuk sementara diijinkan? untuk bekerja. Tetapi akan datang masanya dimana Kristus akan menghanguskan mereka dengan ?nafas mulut-Nya? (8).

Sebagai orang yang dipilih, dipanggil, dan dimurnikan oleh Firman Kebenaran, kita diundang untuk terus-menerus meletakkan Kristus sebagai yang utama dalam pikiran, sikap, dan hidup kita. Ini artinya firman Kebenaran Allah dijadikan landasan hidup dan tolok ukur dari kehidupan kita. [IBS]

Selasa, 10 Februari 2015

Berdoalah!

Lukas 11:1-13

Berdoa merupakan suatu langkah yang sederhana. Namun memiliki dampak yang besar. Sayangnya tidak sedikit orang Kristen yang mengabaikan hal ini. Sehingga banyak orang percaya yang pesimis terhadap doa, sehingga enggan berdoa.

Yesus merespons permintaan para murid agar diajarkan berdoa dengan memberikan doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Melaluinya, kita belajar unsur-unsur mendasar dari doa yang benar. Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah (2). Hal yang sering diabaikan atau mungkin tidak diketahui oleh orang percaya, yaitu memberikan pujian kepada Allah melalui doa. Sering doa hanya dipahami sebagai ungkapan keluh kesah hati semata, atau hanya sebagai sarana untuk menyampaikan daftar pergumulan dan keinginan kita. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa menunjukkan kesadaran kita akan siapa Tuhan, siapa kita.

Kedua, doa juga berisikan permohonan (3). "Berikanlah kami...yang secukupnya." Tuhan mengajar kita agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk dihambur-hamburkan. Ia menjamin bahwa ketika kita meminta maka Ia akan memberikan sesuai dengan kehendak-Nya (9-10). Ketiga, doa juga berisikan ungkapan pertobatan (4). Dalam doa kita mengakui pelanggaran dan dosa kita, tanpa perantara dan langsung kepada Allah. Bagian ini menuntut kejujuran dan keterbukaan kita pada-nya, sehingga dengan begitu Ia akan mengalirkan kasih dan pengampunan-Nya pada kita.

Keempat, berdoalah seolah kita sedang berbicara pada seorang sahabat (5-8). Tanpa mengurangi penghormatan kita pada Allah, Tuhan mengajar kita untuk berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat kita, ada kedekatan, keakraban dan tanpa kecanggungan. Kelima, berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya (11-13). Hubungan itu tentu memiliki ikatan emosional yang tinggi. Seorang bapak pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Demikian pula dengan Allah Bapa tentu juga akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Mari berdoa!

SABDA.org

Senin, 09 Februari 2015

Memprioritaskan Yang Utama

Lukas 10:38-42

Kepadatan aktivitas dan kesibukan kerja bisa merupakan penghalang untuk kita memiliki waktu bersekutu dengan Tuhan. Bahkan juga merupakan salah satu alasan bagi kemunduran rohani seseorang. Jam-jam doa dan perenungan firman Tuhan tergerus oleh padatnya jadwal harian yang kadang malah kehilangan makna dan tujuannya.

Marta mengalami hal yang demikian, ia menyibukkan dirinya dengan melayani Yesus yang singgah di rumahnya (38-39). Bahkan karena kesibukannya yang melelahkan ini, ia sempat protes pada Yesus karena saudaranya, Maria yang sama sekali tidak membantunya (39). Tuhan malah menilai tindakan Marta hanya menyusahkan diri sendiri.

Maria sama sekali tidak memperdulikan kesibukan Marta. Ia memilih untuk duduk dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Sekalipun Marta memprotesnya justru tindakan Maria dikomentari Yesus sebagai "memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya"(42).

Hal apa yang dapat menjadi pelajaran bagi kita? Pertama, kesibukan kita, apa pun jenisnya, termasuk kesibukan melayani Tuhan (40), dapat menjadi "pembunuh" waktu kebersamaan kita dengan Tuhan. Bukan berarti melayani Tuhan itu suatu yang buruk, namun jika itu menjadi penghambat hubungan kita dengan Tuhan maka merupakan hal yang membahayakan bagi kehidupan rohani kita. Jangan-jangan yang kita lakukan lebih melayani kebutuhan diri sendiri untuk eksis.

Kedua, duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya harus menjadi prioritas hidup orang percaya. Karena ini merupakan hal yang utama, Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Justru dari duduk mendengarkan Tuhan, kita dapat memiliki pelayanan yang diperbarui sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bukan untuk motivasi lainnya.

Mari kita meneladani Maria yang memprioritaskan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan.Baik dalam waktu teduh pribadi kita, ataupun dalam persekutuan dengan saudara seiman.

Sumber Renungan Santapan Harian 2015/02/10_Selasa_

Minggu, 01 Februari 2015

Yesus Menerima Orang Berdosa

Lukas 7:36-50


Bila seorang perempuan tidak datang ke rumah seorang Farisi bernama Simon, mungkin perjamuan makan yang dia adakan bagi Yesus, akan berlangsung biasa-biasa saja. Tidak dijelaskan alasan Simon mengundang Yesus makan, mungkin untuk berdiskusi.

Namun kisahnya menjadi berbeda ketika seorang perempuan yang dikenal berdosa, datang ke perjamuan makan itu (37). Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tindakannya bermakna lebih dari beribu kata. Mungkin orang yang ada di situ melihat dengan pandangan ngeri ketika perempuan berdosa itu mendekati Yesus. Dan mata semakin terbelalak ketika perempuan itu menangis di kaki Yesus, menyeka kaki Yesus dengan rambutnya, mencium kaki Yesus, dan meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang dia bawa (38). Karena Yesus mendiamkan perempuan berdosa itu bertindak demikian, Simon mengira bahwa Yesus tidak tahu siapa sesungguhnya perempuan itu. Bila tidak tahu, tentu Dia bukan nabi.

Membaca pikiran Simon, Yesus pun menyampaikan perumpamaan tentang dua orang yang berhutang, lalu karena tidak sanggup membayar maka hutang kedua orang itu pun dihapuskan (40-43). Keduanya tentu berterima kasih kepada orang yang memiutangi mereka, tetapi rasa terima kasih yang lebih besar tentu akan datang dari orang yang hutangnya lebih besar. Ketika Allah mengampuni seorang yang berdosa besar maka orang itu pun akan memiliki rasa syukur yang sangat besar. Namun Yesus bukan sedang berkata bahwa tindakan perempuan itulah yang menyelamatkan dia. Melainkan kasih dan pengampunanlah yang membuat perempuan itu merasa diterima Allah sehingga membuat dia bertindak demikian. Jadi imanlah yang mengarahkan tindakannya (50).

Yesus tahu bahwa seorang pendosa dapat berubah bila ia mau menerima kasih Allah. Bapa di surga pun bersedia mengampuni dosa bila pendosa mau berbalik kepada-Nya. Maka jangan simpan-simpan dosa-dosa Anda, sebesar apapun. Terbukalah pada Allah dan mintalah pengampunan-Nya, niscaya Ia mengampuni Anda. Lalu nyatakanlah syukur Anda.



sumber: Santapan Harian /Jumat, 2015/January/23

Kamis, 07 Agustus 2014

:: Anak Gadis & Ibunya Yang Cantik ::

Suatu pagi seorang anak gadis berkata pada ibunya :
“ Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti ibu, beritahu aku caranya“
“ Dengan tatapan lembut dan senyum haru, sang ibu menjawab:
“ Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik”
“ Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapapun”
“ Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain..”
“ Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan umtuk fakir miskin”
“ Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah di perbuat orang kepadamu.”
“ Untuk wajah putih bercahaya, bersihkan kekotoran batin…”
Anakku… Janganlah sombong akan kecantikan fisik, karena itu akan
pudar oleh waktu. Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian….
Jika anda BENAR, maka anda tidak perlu marah.
Jika anda SALAH, maka anda wajib minta maaf.
Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.
Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT
Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN
Kesabaran dengan Allah adalah IMAN.
Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.
Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.
Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa
KECERIAAN.
Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat anda pedih atau lebih baik. Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan.
Pilihan ada pada anda,apakah anda akan memilih menjadi korban atau pemenang.
Carilah hati yang indah, bukan wajah yang cantik.
Hal hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal hal yang baik akan selalu indah…..
Tahukah kita, mengapa Allah menciptakan ruang antar jari tangan kita?
Agar seseorang yang menurut kita special akan datang dan mengisi ruang tersebut, dengan memegang tangan kita selamanya..
Selamat berjuang menyemai dan menanam bibit bibit kebajikan…
Ingat!
kesempatan tidak selalu membuat hidup kita lebih baik, tapi perubahan diri kita yang mengubah segalanya…. <3 p="">

Senin, 04 Agustus 2014

Kisah Mawar dan Pohon Bambu

Di sebuah taman, terdapat taman bunga mawar yang sedang berbunga. Mawar-mawar itu mengeluarkan aroma yang sangat harum. Dengan warna-warni yang cantik, banyak orang yang berhenti untuk memuji sang mawar. Tidak sedikit pengunjung taman meluangkan waktu untuk berfoto di depan atau di samping taman mawar. Bunga mawar memang memiliki daya tarik yang menawan, semua orang suka mawar, itulah salah satu lambang cinta.

Sementara itu, di sisi lain taman, ada sekelompok pohon bambu yang tampak membosankan. Dari hari ke hari, bentuk pohon bambu yang begitu saja, tidak ada bunga yang mekar atau aroma wangi yang disukai banyak orang. Tidak ada orang yang memuji pohon bambu. Tidak ada orang yang mau berfoto di samping pohon bambu. Maka tak heran jika pohon bambu selalu cemburu saat melihat taman mawar dikerumuni banyak orang.

“Hai bunga mawar,” ujar sang bambu pada suatu hari. “Tahukah kau, aku selalu ingin sepertimu. Berbunga dengan indah, memiliki aroma yang harum, selalu dipuji cantik dan menjadi saksi cinta manusia yang indah,” lanjut sang bambu dengan nada sedih.

Mawar yang mendengar hal itu tersenyum, “Terima kasih atas pujian dan kejujuranmu, bambu,” ujarnya. “Tapi tahukah kau, aku sebenarnya iri denganmu,”

Sang bambu keheranan, dia tidak tahu apa yang membuat mawar iri dengannya. Tidak ada satupun bagian dari bambu yang lebih indah dari mawar. “Aneh sekali, mengapa kau iri denganku?”

“Tentu saja aku iri denganmu. Coba lihat, kau punya batang yang sangat kuat, saat badai datang, kau tetap bertahan, tidak goyah sedikitpun,” ujar sang mawar. “Sedangkan aku dan teman-temanku, kami sangat rapuh, kena angin sedikit saja, kelopak kami akan lepas, hidup kami sangat singkat,” tambah sang mawar dengan nada sedih.

Bambu baru sadar bahwa dia punya kekuatan. Kekuatan yang dia anggap biasa saja ternyata bisa mengagumkan di mata sang mawar. “Tapi mawar, kamu selalu dicari orang. Kamu selalu menjadi hiasan rumah yang cantik, atau menjadi hiasan rambut para gadis,”

Sang mawar kembali tersenyum, “Kamu benar bambu, aku sering dipakai sebagai hiasan dan dicari orang, tapi tahukah kamu, aku akan layu beberapa hari kemudian, tidak seperti kamu,”

Bambu kembali bingung, “Aku tidak mengerti,”

“Ah bambu..” ujar mawar sambil menggeleng, “Kamu tahu, manusia sering menggunakan dirimu sebagai alat untuk mengalirkan air. Kamu sangat berguna bagi tumbuhan yang lain. Dengan air yang mengalir pada tubuhmu, kamu menghidupkan banyak tanaman,” lanjut sang mawar. “Aku jadi heran, dengan manfaat sebesar itu, seharusnya kamu bahagia, bukan iri padaku,”

Bambu mengangguk, dia baru sadar bahwa selama ini, dia telah bermanfaat untuk tanaman lain. Walaupun pujian itu lebih sering ditujukan untuk mawar, sesungguhnya bambu juga memiliki manfaat yang tidak kalah dengan bunga cantik itu. Sejak percakapan dengan mawar, sang bambu tidak lagi merenungi nasibnya, dia senang mengetahui kekuatan dan manfaat yang bisa diberikan untuk makhluk lain.

Daripada menghabiskan tenaga dengan iri pada orang lain, lebih baik bersyukur atas kemampuan diri sendiri, apalagi jika berguna untuk orang lain.


Jumat, 22 Maret 2013

Bila Belum Terjawab


Pengkhotbah 3:11

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,  bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.



Ada tiga hal penting yang ada pada Bapa dan perlu kita sadari. Pertama, Tuhan Mahatahu. Dia tahu perjuangan kita setiap kali kita meminta, mencari, atau pun bersyukur keoada-Nya. Tuhan tahu seberapa besar keinginan kita agar doa kita dikabulkan. Tuhan tahu apa yang akan terjadi pada diri kita karena Dialah yang memegang masa depan kita, Tuhan membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku, ungkap Pemazmur. Tuhan tahu segalanya termasuk pikiran kita.

Kedua, segala sesuatu ada waktunya. Mungkin doa kita sudah dijawab oleh Tuhan namun belum tiba waktunya bagi kita untuk mengetahuinya. Mungkin karena kita belum siap diproses oleh Tuhan, kita masih bisa bertahan. Jadi, apa yang kita minta akan Tuhan berikan menurut waktu-Nya. Itulah saat Tuhan menjawab doa. Dalam Pengkhotbah 3:17 dikatakan, "Untuk segalah hal dan segala pekerjaan ada waktunya."

Ketiga, Tuhan pasti membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Kita bisa mengatakan bahwa saat itulah Tuhan mengabulkan doa kita. Hal ini sudah tepat, karena kita sudah siap dan membutuhkannya. Tuhan juga sudah memberi tanda bahwa Dia mengijinkannya. Kita perlu terus percaya bahwa doa kita pasti dijawab, tidak ada yang mustahil di dalam Tuhan, kita beriman kepada Kristus, berharap pada-Nya. Tuhan Yesus pasti mengabulkannya. Percayalah, waktu Tuhan itu indah bagi kita. Bersabarlah!

Permulaan sabar adalah pahit, tetapi manis akhirnya.
Sumber : Renungan Malam / Zee

Minggu, 16 Desember 2012

Menjelang Hari Tuhan Yang Mendekat

Matius 24:44
Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Beberapa tahun terakhir Indonesia sangat rawan dengan bencana alam. Masih segar diingatan kita bagaimana tsunami menghantam Aceh, gempa dasyat menggoncang kota Padang. Menghadapi berbagai bencana itu, akhirnya diikembangkan sistem peringatan dini terhadap bencana alam. Tidak berhenti pada sistem peringatan dini, masyarakat pun dilatih untuk melakukan simulasi ketika mendengar peringatan bahaya.
Bencana alam memang tidak bisa kita duga kapan datangnya, sebab itu kita dituntut untuk waspada. Tahukah Anda bahwa Tuhan menuntut kita memiliki kewaspadaan yang serupa dalam hal rohani, bahkan mungkin lebih waspada dari menghadapi bencana alam. Yesus berkata : "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." Matius 24:42Perintah Yesus untuk kita berjaga-jaga bukanlah untuk menakuti kita, atau membuat kita seperti fenomena saat ini dimana sebagian orang yang pergi ke tempat-tempat tertentu untuk menunggu kiamat.

Sebaliknya, Yesus meminta kita waspada menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali, agar kita semakin giat bekerja mengemban tugas yang Ia berikan. Ia berkata "berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." Matius 24:46.  Janji kedatangan-Nya seharusnya memacu kita untuk semakin giat untuk mengemban Amanat Agung, dengan demikian kita dapat menyenangkan hati Tuan kita.
Akhir zaman atau kiamat bukanlah garis akhir bagi orang percaya, tetapi sebuah estafet menuju sebuah kehidupan yang baru. Untuk itu jangan hadapi dengan ketakutan, tetapi hadapilah dengan kegairahan dan sukacita sambil giat bekerja bagi Tuhan kita.

Mari jaga kewaspadaan kita menjelang hari Tuhan yang mendekat, kuatkan iman, dan makin giatlah bekerja bagi Kristus.

sumber: 

Jumat, 14 Desember 2012

Jangan Biarkan Iblis Sukses

Yohanes 8:42
Kata Yesus kepada mereka: 
"Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.


Dalam banyak hal Iblis berhasil menipu dan memprovokasi manusia untuk berpikir dan merasa bahwa Allah senang memperbudak manusia sehingga banyak manusia berusaha hidup saleh dan senang dengan tindakan-tindakan yang agamawi. Atau sebaliknya di tempat lain banyak manusia yang memilih untuk hidup bebas dan membenci agama.
Semua itu dibuat Iblis supaya manusia terperangkap dalam kegelapan sehingga manusia tidak dapat bersekutu/bersahabat dengan Allah. Ketika manusia tidak bersekutu dengan Allah, manusia tidak bisa menjadi maksimal seperti yang Allah kehendaki.
Karena itu seperti yang kita ketahui bersama banyak manusia yang sulit untuk menerima kenyataan kalau Allah menjadi manusia dan hidup bersahabat dengan orang berdosa. Hal itu terlihat jelas dari keseluruhan pasal delapan dalam kitab Yohanes, dimana kebanyakan orang yang saleh dan taat beragama justru membenci Yesus, Anak Tunggal Allah.
Tahukah Anda kalau dari zaman ke zaman Iblis sukses menggunakan fakta dan kenyataan untuk menyesatkan pikiran dan perasaan manusia. Iblis/Setan selalu berusaha mengambil atau mencuri kebahagiaan dan potensi manusia dengan dusta dan dakwaannya. Seperti yang dikatakan oleh Yesus bahwa dari sejak semula Iblis memang membenci manusia dan berkeinginan untuk membunuh manusia. (Yohanes 8:44)
Jika demikian masihkah Anda membiarkan kesuksesan Iblis? Kalau Anda mau mengalahkan Iblis maka ini saatnya gereja Tuhan bersatu dan bekerja sama dengan Roh Kudus untuk menceritakan siapakah Yesus Kristus itu dan memberitakan kepada teman dan keluarga kita kalau Allah adalah Bapa yang baik yang rindu untuk bersahabat dengan mereka.

Kristus Yesus sudah memerdekakan kita, jadi bersukacitalah dan manfaatkanlah kemerdekaan itu untuk berkarya dan melayani pekerjaan TUHAN


Kamis, 13 Desember 2012

Anugerah Dan Belas Kasihan

Lukas 2:14
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.

Sebuah surat dari seorang prajurit Inggris saat Perang Dunia I mengungkap sebuah kisah yang akan menjadi kisah Natal terfenomenal sepanjang sejarah. Saat itu malam Natal 1914. Pasukan Inggris dan Jerman saling berhadapan dalam pertempuran sengit. Namun di malam itu tiba-tiba tampak sebuah pemandangan aneh ketika dari parit tempat pasukan Jerman bersembunyi terlihat cahaya berkelap-kelip dengan sangat indahnya. Ternyata orang Jerman telah menempatkan Pohon Natal di depan parit mereka, diterangi lilin dan lentera di sepanjang parit.

Tak lama kemudian terdengar tentara Jerman menyenandungkan sebuah lagu, "Stille nach, Heilige nacht..." Lagu tersebut belumlah akrab di telinga beberapa tentara Inggris kala itu dan mereka yang mengenali lagu tersebut langsung menerjemahkan arti nyanyian yang ternyata adalah lagu Silent Night. Lagu tersebut menjadi sebuah lagu yang terasa jauh lebih bermakna di tengah medan perang yang gelap dan dingin.

Ketika lagu selesai dinyanyikan, tentara Inggris bertempik sorak untuk tentara Jerman. Kemudian salah seorang tentara Inggris mulai menyanyikan lagu The First Noel yang langsung disambut tentara Inggris lainnya. Tentara Jerman balik bertepuk tangan untuk tentara Inggris. Malam itu tentara Inggris dan Jerman silih berganti menyanyikan lagu Natal dalam bahasa mereka masing-masing. Tentara Inggris dan Jerman memperdengarkan harmonisasi dari lagu Natal yang indah di tanah tak bertuan, di malam yang dingin, di tengah perang yang sedang memanas. Namun apa yang terjadi kemudian jauh lebih menakjubkan.

Mereka sepakat untuk melakukan gencatan senjata hingga tengah malam berikutnya. Beberapa menit kemudian, di tanah tak bertuan ini, lebih dari seratus tentara dan perwira di masing-masing pihak saling berjabat tangan padahal beberapa jam sebelumnya mereka masih berusaha saling membunuh. Bahkan mereka yang tidak dapat berkomunikasi saling bertukar hadiah. Para tentara yang tadinya saling bermusuhan ini kemudian berkumpul di api unggun dan kembali menyanyikkan lagu Natal bersama-sama yang ditutup dengan lagu Auld Lang Syne, dan berjanji untuk kembali bertemu esok hari.

Sebuah keajaiban Natal yang patut menjadi bahan perenungan. Apa yang menyebabkan dua tentara yang berlawanan, berjuang sampai mati demi negaranya, meletakkan senjata mereka dan saling berpelukan sebagai teman? Semuanya hanya karena anugerah dan belas kasihan. Anugerah dan belas kasihan yang sama yang hadir di hati manusia pertama kali melalui kelahiran dan kematian Yesus dua ribu tahun yang lalu.

Anugerah, bicara tentang kebebasan dan perkenanan yang tidak seharusnya kita terima namun telah diberikan Tuhan kepada kita sebagai hadiah. Sedangkan belas kasihan bicara tentang kasih yang panjang sabar, akan kebaikan dan pengampunan Tuhan, meskipun sesungguhnya kita layak untuk menerima hukuman. Tentu saja Bapa Sorgawi adalah teladan terbaik dari pemberi anugerah dan kasih karunia.

Semoga setiap kita dapat mengikuti teladan dari Bapa Sorgawi kita, dan seperti tentara Inggris dan Jerman di pedesaan yang dilanda perang dingin di Belgia, melebarkan anugerah dan belas kasihan kepada setiap pribadi sehingga kita dapat menjalani kehidupan dengan penuh damai sejahtera.
Saat anugerah dan belas kasihan berjalan beriringan dan mengetuk hati manusia, kebencian sirna dan pengampunan yang mengalir melahirkan damai sejahtera.

Selasa, 29 Mei 2012

Misteri Tangisan Yesus


Yohanes 11:35
Maka menangislah Yesus.

Yohanes 11:35 memang menjadi sebuah ayat yang singkat di Alkitab yang terkadang kekuatannya seringkali diabaikan. Namun ketika kita melihat kisahnya secara lengkap, ada sesuatu yang benar-benar indah tentang Yesus. Insiden Yesus menangis terjadi ketika IA membangkitkan Lazarus dari kematian. Yesus adalah teman baik dari Lazarus dan kedua saudara perempuannya, Maria dan Marta. Lazarus sakit parah dan Maria serta Marta mengirim kabar kepada Yesus agar Yesus datang dan menyembuhkan saudara mereka. Hal ini disebutkan tiga kali dalam Yohanes 11:1-46 betapa Yesus mengasihi Lazarus, Maria dan Marta. Meskipun tak satupun dari ketiga orang ini termasuk 12 murid Yesus, namun Alkitab secara jelas menuliskan betapa Yesus sangat mengasihi mereka.
Namun ketika Yesus mendapat berita bahwa Lazarus sakit, IA sengaja menunda kedatangan-Nya. Yesus tidak langsung berlari ke sisi Lazarus dan menyembuhkannya. Sebaliknya, Yesus menghabiskan dua hari lagi di tempat IA berada dan selama waktu itu Lazarus pun meninggal. Kenapa? Kenapa Yesus menunggu dan membiarkan sahabat yang dikasihi-Nya meninggal? Yesus membiarkan Lazarus mati karena Dia punya rencana. Seluruh masalah ini, dari awal sampai akhir, tidaklah menjadi misteri bagi Yesus. Rencana Yesus sejak awal adalah untuk membangkitkan Lazarus dari kematian.
Butuh waktu empat hari bagi Yesus untuk sampai ke Betania, rumah Maria dan Marta serta Lazarus yang telah meninggal telah dikuburkan. Jika bicara soal terlambat, Yesus bahkan melewatkan prosesi pemakaman. Ketika Marta tahu bahwa Yesus ada di kota, Marta bergegas menemui Yesus. Dalam percakapan antara Marta dan Yesus, kita diperkenalkan akan ayat yang begitu luar biasa akan pengharapan dan janji yang diucapkan Yesus dalam Yohanes 11:25-26, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”
Marta kemudian menemui Maria dan bergabung bersama dengan orang lain yang sedang berkabung. Lalu tibalah kita pada hal yang menarik. Ketika Yesus melihat Maria dan Marta serta semua orang yang berkabung dengan mereka, hati Yesus masygull dan IA pun menangis juga bersama dengan mereka. Yesus menangis! Tapi kenapa? Yesus tahu bahwa Dia akan membangkitkan Lazarus dari kematian. Yesus tahu bahwa cerita itu akan memiliki akhir yang luar biasa bahagia. Yesus tahu bahwa Dia akan melakukan sesuatu yang benar-benar mengagumkan. Namun Yesus tetap menangis. Yesus tidak mencoba untuk mendiamkan semua orang. Yesus tidak memarahi mereka karena tidak memiliki iman. Yesus tidak mencoba untuk memberitahu mereka bahwa segala sesuatu akan menjadi baik-baik saja. Yesus tidak membalikkan prosesi pemakaman menjadi sebuah parade kemenangan. Yesus berjalan bersama dengan mereka dan IA menangis bersama-sama dengan mereka.
Yesus menangis karena IA mengerti dan juga merasakan rasa sakit dan kesedihan. Tuhan adalah Tuhan dari kekekalan, tetapi Dia juga Tuhan untuk saat ini, waktu ini. Tuhan tidak meremehkan atau mengabaikan perasaan kita hanya karena Dia tahu bahwa Dia akan mengerjaka semuanya. Sebaliknya, Tuhan berjalan bersama kita dan sama-sama merasakan rasa sakit yang kita rasakan. Maria, Marta dan kerumunan oran yang berkabung mungkin berpikir bahwa Yesus datang terlambat, namun bagaimana mungkin IA yang dapat membatalkan segala sesuatu, bahkan atas kematian, bisa terlambat?
Saya tidak tahu apa yang Anda alami saat ini, tapi Yesus tahu. Saya tidak tahu bagaimana masalah Anda akan berlalu, tapi Yesus tahu. Saya tidak tahu apa yang Anda rasakan, tapi Yesus tahu. Apapun itu, Tuhan punya rencana. Tuhan berjalan bersama dengan Anda dan Tuhan merasakan apa yang Anda rasakan. Yesus menangis bersama dengan Anda. Dia tidak terlambat, dan pada akhirnya Anda akan melihat bahwa apapun yang telah “mati” dalam kehidupan Anda, akan bangkit kembali. Dan Yesus akan bersukacita bersama-sama dengan Anda.
Meskipun Yesus tahu akhir indah dari rencana-Nya atas hidup Anda, tak berarti IA tak akan menangis bersama dengan Anda hari ini.

Senin, 16 Januari 2012

Fokus Yang Benar


Mazmur 131:1

Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 16; Matius 16; Kejadian 31-32
Sebelum membahas ayat diatas, ada hal yang perlu Anda ingat bahwa Tuhan ingin kita terus bertumbuh dan menambah pengetahuan dan pemahaman kita terutama mengenai Firman Tuhan (Kolose 1:10). Jika Daud berkata aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau ajaib, itu bukan berarti ia mengatakan ia tidak mau bertumbuh lagi.
Ada kebenaran dibalik perkataan Daud ini, yaitu meskipun ada kehormatan dalam hal-hal besar namun seseorang yang bijak mengetahui bahwa manusia memiliki keterbatasan dan sangat penting untuk mengetahui dan menerima keterbatasan itu.
Daud mengerti siapa Tuhan yang menciptakan dirinya dan tujuan hidupnya, selain itu ia tidak mau menghabiskan waktu hidupnya untuk mengejar sesuatu diluar tujuan yang telah Tuhan tetapkan tersebut. Dia tidak anti dengan pertumbuhan dan pembelajaran, tetapi dia tidak mau membawa dirinya untuk mempelajari atau mengejar sesuatu yang tidak berhubungan dengan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, Daud memiliki fokus dalam hidupnya. Dia memiliki totalitas dalam mengejar rencana Tuhan. Karena fokus hidupnya tersebut dia memiliki kedamaian serta mengalami sebuah kepuasan yang diinginkan oleh setiap orang. Hal itu ia ungkapkan dalam Mazmur 131:2 (BIS):
Sesungguhnya, hatiku tenang dan tentram; seperti bayi yang habis menyusu, berbaring tenang di pangkuan ibunya, setenang itulah hatiku.
Saat ini, berapa banyak dari kita memiliki kedamaian seperti itu? Atau sebaliknya, kita saat ini begitu gundah dan juga stress karena berbagai hal yang kita kejar, mungkin itu gelar, jabatan atau sesuatu yang lain. Pengejaran seperti itu tidak akan ada habisnya, selain itu, hal tersebut terkadang tidak berhubungan dengan panggilan Tuhan dalam hidup Anda. Jadi pengejaran itu hanyalah pengejaran yang sia-sia dan membuat kita melupakan akan panggilan Tuhan dalam hidup kita.
Hari ini, apapun yang sedang kita kerjakan dan kejar, marilah kita kembali bertanya: Apakah hal ini berhubungan dengan panggilan Tuhan dalam hidup saya? Jika tidak, jadilah seperti Daud. Singkirkan hal itu, dan fokuslah pada panggilan Tuhan, maka Anda dapat merasakan kedamaian yang Daud rasakan.
Fokus kepada rencana Allah membawa Anda kepada kedamaian. Pengejaran obsesi kedagingan hanya akan menghabiskan energi dan waktu Anda.

Sumber : Crosswalk.com | Puji Astuti

Senin, 19 September 2011

Setia Dalam Kekosongan

Rut 1:16

Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan dimana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam. Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku



“Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.” Inilah sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia. Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang, kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?
Salah satu tokoh wanita yang ditulis dalam Alkitab, Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi, boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang berada.
Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh Naomi, tetapi ada pernyataan bahwa Naomi “pergi dengan tanah penuh” (Rut 1:21). Akan tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi jatuh miskin – “tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku”. Disinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan Naomi dalam “kekosongannya”.
Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu, jika kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita setia (Renungan Harian Setahun; Penerbit Gloria)
Jangan biarkan kesetiaan kita ditentukan oleh harta, tetapi tentukanlah kesetiaan kita oleh kasih


http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/main_daily_update/date/2011-09-19.html

Selasa, 26 April 2011

Proses Pengudusan

1 Petrus 1:15-16
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu samAa seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Dalam 1 Petrus 1:16 dituliskan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ini adalah sebuah perintah diluar kemampuan kita! Tapi itulah yang Tuhan ingin lakukan dalam hidup kita – menjadikan kita kudus. Rencana besar-Nya dapat disimpulkan dalam satu kata: pengudusan. Ini adalah proses tiga tahap dimana Dia telah menetapkan kita bagi rencana-Nya.

Tahap satu adalah saat kita diselamatkan. Ketika Tuhan menyatakan kita kudus, kita pada dasarnya kudus. Tahap  kedua adalah pertumbuhan mengarah pada tujuan yang sudah Tuhan tetapkan. Proses ini akan berlangsung seumur hidup kita.
Dari mulanya Tuhan membentuk kita segambar dengan Anak-Nya, dan Dia terus membentuk kita baik tingkah laku, karakter dan juga percakapan kita. Meskipun Tuhan adalah satu-satunya yang akan menyelesaikan proses transformasi ini, kita memiliki tanggung jawab dalam proses ini. Jika kita tidak bekerja sama dengan-Nya, dunia lah yang akan membentuk kehidupan kita, dan kita akan melewatkan rencana Tuhan yang besar.
Tahap tiga pengudusan kita adalah saat kita mengalami kekudusan mutlak. Hal ini terjadi saat kita mengalami kematian fisik, jiwa dan roh kita dibebaskan dari dosa dan dalam kebangkitan, tubuh kita akan disempurnakan. Kita akan berdiri dalam keadaan sempurna, tidak bercacat di hadapan Kristus.
Jika kita bisa melihat sekilas saja, kita tidak akan pernah mengeluh atau menggerutu ketika kita menghadapi pengudusan dalam hidup ini. Arahkan mata kita pada tujuan akhir kita, jadikan motivasi utama kita untuk memuliakan Tuhan dengan menyerahkan hidup kita di tangan-Nya untuk Ia ubahkan.
Hidup kudus bukannya sesuatu yang mustahil, bersama Yesus kita akan dikuduskan menjadi serupa dengan rupa dan gambar-Nya.

Kamis, 21 April 2011

Perjamuan Kudus

I Korintus 11:27-28
Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

Matius pasal 26 menceritakan salah satu acara paling terkenal dalam sejarah manusia dan juga acara makan bersama paling terkenal, Perjamuan Terakhir.

Ketika semua murid sudah duduk bersama, Yesus berkata, “"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (ayat 27-28).
Yesus, seperti yang sering Ia lakukan, berbicara secara simbolis. Mengatakan sesuatu secara langsung tidak sesuai dengan perumpamaan yang sering Ia gunakan. Setelah itu, Yesus berkata bahwa Dialah Roti Kehidupan. Dan tidakkah Ia pernah mengatakan bahwa Dialah pintu?

Jadi, apakah kita orang Kristen berkeras bahwa Yesus adalah benar-benar roti dan pintu? Tentu saja tidak. Kita tidak berkeras bahwa roti dan anggur itu benar-benar secara nyata adalah darah dan daging Yesus. Tidak ada bukti bahwa terjadi sesuatu yang supranatural terjadi proses perubahan atas isi cawan itu berubah menjadi darah-Nya dan roti menjadi daging-Nya.

Oleh karena itu, ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, jangan dibingungkan dengan apa yang terwakili olehnya. Kita tidak perlu berpikir bahwa roti adalah daging dan anggur mengandung darah.

Namun di lain sisi, kita jangan merendahkan Perjamuan Kudus dengan meremehkannya. Jelas Alkitab memperingatkan kita untuk menyadari pentingnya Perjamuan Kudus (Lihat 1 Korintus11:23-30).

Roti  dan anggur bukanlah suatu unsur suci, namun hal itu mewakili unsur suci. Jadi lakukanlah dengan penuh penghormatan dan resapilah ketika melakukan Perjamuan Kudus. Sadarilah bahwa apa yang Anda lakukan adalah sebuah pengingat akan apa yang Yesus lakukan bagi kita ketika Ia disalibkan.  Dengan darah yang tercurah dan dagingnya yang tercabik-cabik itu, setiap dosa, sakit dan penderitaan kita telah ditanggungnya. Anggur dan roti itu adalah pengingat bahwa Tuhan begitu mengasihi kita sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya siapa yang percaya pada-Nya tidak binasa.
Roti dan anggur yang kita makan dan minum saat perjamuan kudus adalah pengingat bahwa seorang pribadi telah mati bagi kita.

Selasa, 19 April 2011

Jangan Buat Yesus Menangis Lagi

Lukas 19:41-42

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya:
"Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Yesus memasuki Yerusalem dengan kemegahan, orang-orang merayakannya. Mereka tertawa. Mereka senang. Mereka mengalami waktu yang indah. Lalu apa yang Yesus lakukan? Dia melihat kota itu, dan Dia menangisi-Nya. Ditengah kerumunan itu, yang menggila, dan Yesus menangisinya. Kerumunan itu bersukacita, dan Kristus terisak-isak.

Mengapa Yesus menangis ketika melihat Yerusalem? Sebagai Tuhan yang maha tahu, Yesus tahu bahwa orang-orang yang sedang bersorak, “Hosana!” ini akan dengan segera berteriak, “Salibkan Dia!” Dia tahu bahwa salah satu murid-Nya, Yudas, akan mengkhianati-Nya. Dia tahu murid-Nya yang lain, Petrus, akan menyangkal Dia. Dia tahu bahwa Kayafas, imam besar itu, akan berkonspirasi dengan Pilatus,  Gubernur Roma, untuk membunuh Dia. Dan, Dia tahu masa depan Yerusalem. Melihat 40 tahun kemudia, Dia melihat kehancuran akan terjadi pada kota itu di tangan Kaisar Titus dan tentara Romawinya.

Yesus juga menangis karena masa pelayanan-Nya akan segera selesai. Waktu begitu singkat. Dia telah menyembuhkan penyakit mereka. Dia telah membangkitkan orang mati. Dia telah mentahirkan orang kusta. Dia telah memberi makan orang lapar. Dia telah mengampuni dosa mereka. Namun dalam sebagian besar waktunya, Dia ditolak. Yohanes 1:11 berkata, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” Jadi Dia menangis. Hal itu menghancurkan hatinya, dan hal ini masih terjadi.

Ketidak percayaan dan penolakan menghancurkan hati Tuhan, karena Dia tahu akibatnya. Tetapi ketika hati manusia tertutup, Dia menolak masuk secara paksa. Dia hanya akan mengetuk pintu hati itu, menunggu untuk diijinkan masuk. Dia memberi kita kemampuan untuk memilih. Tetapi ketika kita salah memilih sesuatu, Dia tahu dampak yang akan mengikutinya – baik dalam hidup ini dan juga yang akan datang. Dan hatinya hancur karenanya. (Greg Laurie/Harvest.og)

Setiap pilihan buruk yang kita buat, Yesus menangis karena hati-Nya hancur melihat umat yang Ia kasihi harus mengalami konsekuensi yang buruk.