Senin, 16 Januari 2012

Fokus Yang Benar


Mazmur 131:1

Nyanyian ziarah Daud. TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 16; Matius 16; Kejadian 31-32
Sebelum membahas ayat diatas, ada hal yang perlu Anda ingat bahwa Tuhan ingin kita terus bertumbuh dan menambah pengetahuan dan pemahaman kita terutama mengenai Firman Tuhan (Kolose 1:10). Jika Daud berkata aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau ajaib, itu bukan berarti ia mengatakan ia tidak mau bertumbuh lagi.
Ada kebenaran dibalik perkataan Daud ini, yaitu meskipun ada kehormatan dalam hal-hal besar namun seseorang yang bijak mengetahui bahwa manusia memiliki keterbatasan dan sangat penting untuk mengetahui dan menerima keterbatasan itu.
Daud mengerti siapa Tuhan yang menciptakan dirinya dan tujuan hidupnya, selain itu ia tidak mau menghabiskan waktu hidupnya untuk mengejar sesuatu diluar tujuan yang telah Tuhan tetapkan tersebut. Dia tidak anti dengan pertumbuhan dan pembelajaran, tetapi dia tidak mau membawa dirinya untuk mempelajari atau mengejar sesuatu yang tidak berhubungan dengan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, Daud memiliki fokus dalam hidupnya. Dia memiliki totalitas dalam mengejar rencana Tuhan. Karena fokus hidupnya tersebut dia memiliki kedamaian serta mengalami sebuah kepuasan yang diinginkan oleh setiap orang. Hal itu ia ungkapkan dalam Mazmur 131:2 (BIS):
Sesungguhnya, hatiku tenang dan tentram; seperti bayi yang habis menyusu, berbaring tenang di pangkuan ibunya, setenang itulah hatiku.
Saat ini, berapa banyak dari kita memiliki kedamaian seperti itu? Atau sebaliknya, kita saat ini begitu gundah dan juga stress karena berbagai hal yang kita kejar, mungkin itu gelar, jabatan atau sesuatu yang lain. Pengejaran seperti itu tidak akan ada habisnya, selain itu, hal tersebut terkadang tidak berhubungan dengan panggilan Tuhan dalam hidup Anda. Jadi pengejaran itu hanyalah pengejaran yang sia-sia dan membuat kita melupakan akan panggilan Tuhan dalam hidup kita.
Hari ini, apapun yang sedang kita kerjakan dan kejar, marilah kita kembali bertanya: Apakah hal ini berhubungan dengan panggilan Tuhan dalam hidup saya? Jika tidak, jadilah seperti Daud. Singkirkan hal itu, dan fokuslah pada panggilan Tuhan, maka Anda dapat merasakan kedamaian yang Daud rasakan.
Fokus kepada rencana Allah membawa Anda kepada kedamaian. Pengejaran obsesi kedagingan hanya akan menghabiskan energi dan waktu Anda.

Sumber : Crosswalk.com | Puji Astuti

Senin, 19 September 2011

Setia Dalam Kekosongan

Rut 1:16

Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan dimana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam. Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku



“Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.” Inilah sebuah ungkapan yang menyatakan ketidaksetiaan. Tak mudah memang untuk setia, apalagi jika kesetiaan tidak hanya untuk diucapkan, tetapi perlu dibuktikan.
Ada tiga penguji kesetiaan. Pertama, waktu. Seberapa lama kita bisa setia. Kedua, jarak. Kita bisa setia saat dekat, tetapi bagaimana jika kita terpisah jauh? Ketiga, keadaan. Kalau lagi senang, kita akan setia, tetapi bagaimana jika dalam keadaan yang sulit?
Salah satu tokoh wanita yang ditulis dalam Alkitab, Rut adalah seorang yang setia. Waktu Naomi dan keluarganya baru datang ke Moab, mereka adalah keluarga yang memiliki harta. Jadi, boleh dikatakan Rut menikah dengan anak dari keluarga yang berada.
Alkitab tidak menyebut berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh Naomi, tetapi ada pernyataan bahwa Naomi “pergi dengan tanah penuh” (Rut 1:21). Akan tetapi, setelah Elimelekh dan kedua anaknya meninggal dunia, Naomi jatuh miskin – “tetapi dengan tangan kosong Tuhan memulangkan aku”. Disinilah kesetiaan Rut diuji dan ia berhasil. Rut tidak meninggalkan Naomi dalam “kekosongannya”.
Mudah sekali untuk setia kepada orang yang banyak harta benda dan tinggi kedudukan. Sebaliknya, sulit sekali untuk setia kepada orang yang sedang jatuh atau tidak punya apa-apa lagi. Rut bisa tetap setia karena dasar kesetiaannya adalah kasih, bukan harta. Oleh sebab itu, jika kita mau menjadi orang yang setia, baik kepada istri atau suami, pelayanan, bahkan kepada Tuhan, kita harus mengubah dasar kesetiaan kita. Biarlah kasih yang selalu menjadi alasan mengapa kita setia (Renungan Harian Setahun; Penerbit Gloria)
Jangan biarkan kesetiaan kita ditentukan oleh harta, tetapi tentukanlah kesetiaan kita oleh kasih


http://www.jawaban.com/index.php/spiritual/main_daily_update/date/2011-09-19.html

Selasa, 26 April 2011

Proses Pengudusan

1 Petrus 1:15-16
Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu samAa seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Dalam 1 Petrus 1:16 dituliskan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ini adalah sebuah perintah diluar kemampuan kita! Tapi itulah yang Tuhan ingin lakukan dalam hidup kita – menjadikan kita kudus. Rencana besar-Nya dapat disimpulkan dalam satu kata: pengudusan. Ini adalah proses tiga tahap dimana Dia telah menetapkan kita bagi rencana-Nya.

Tahap satu adalah saat kita diselamatkan. Ketika Tuhan menyatakan kita kudus, kita pada dasarnya kudus. Tahap  kedua adalah pertumbuhan mengarah pada tujuan yang sudah Tuhan tetapkan. Proses ini akan berlangsung seumur hidup kita.
Dari mulanya Tuhan membentuk kita segambar dengan Anak-Nya, dan Dia terus membentuk kita baik tingkah laku, karakter dan juga percakapan kita. Meskipun Tuhan adalah satu-satunya yang akan menyelesaikan proses transformasi ini, kita memiliki tanggung jawab dalam proses ini. Jika kita tidak bekerja sama dengan-Nya, dunia lah yang akan membentuk kehidupan kita, dan kita akan melewatkan rencana Tuhan yang besar.
Tahap tiga pengudusan kita adalah saat kita mengalami kekudusan mutlak. Hal ini terjadi saat kita mengalami kematian fisik, jiwa dan roh kita dibebaskan dari dosa dan dalam kebangkitan, tubuh kita akan disempurnakan. Kita akan berdiri dalam keadaan sempurna, tidak bercacat di hadapan Kristus.
Jika kita bisa melihat sekilas saja, kita tidak akan pernah mengeluh atau menggerutu ketika kita menghadapi pengudusan dalam hidup ini. Arahkan mata kita pada tujuan akhir kita, jadikan motivasi utama kita untuk memuliakan Tuhan dengan menyerahkan hidup kita di tangan-Nya untuk Ia ubahkan.
Hidup kudus bukannya sesuatu yang mustahil, bersama Yesus kita akan dikuduskan menjadi serupa dengan rupa dan gambar-Nya.

Kamis, 21 April 2011

Perjamuan Kudus

I Korintus 11:27-28
Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.

Matius pasal 26 menceritakan salah satu acara paling terkenal dalam sejarah manusia dan juga acara makan bersama paling terkenal, Perjamuan Terakhir.

Ketika semua murid sudah duduk bersama, Yesus berkata, “"Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (ayat 27-28).
Yesus, seperti yang sering Ia lakukan, berbicara secara simbolis. Mengatakan sesuatu secara langsung tidak sesuai dengan perumpamaan yang sering Ia gunakan. Setelah itu, Yesus berkata bahwa Dialah Roti Kehidupan. Dan tidakkah Ia pernah mengatakan bahwa Dialah pintu?

Jadi, apakah kita orang Kristen berkeras bahwa Yesus adalah benar-benar roti dan pintu? Tentu saja tidak. Kita tidak berkeras bahwa roti dan anggur itu benar-benar secara nyata adalah darah dan daging Yesus. Tidak ada bukti bahwa terjadi sesuatu yang supranatural terjadi proses perubahan atas isi cawan itu berubah menjadi darah-Nya dan roti menjadi daging-Nya.

Oleh karena itu, ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, jangan dibingungkan dengan apa yang terwakili olehnya. Kita tidak perlu berpikir bahwa roti adalah daging dan anggur mengandung darah.

Namun di lain sisi, kita jangan merendahkan Perjamuan Kudus dengan meremehkannya. Jelas Alkitab memperingatkan kita untuk menyadari pentingnya Perjamuan Kudus (Lihat 1 Korintus11:23-30).

Roti  dan anggur bukanlah suatu unsur suci, namun hal itu mewakili unsur suci. Jadi lakukanlah dengan penuh penghormatan dan resapilah ketika melakukan Perjamuan Kudus. Sadarilah bahwa apa yang Anda lakukan adalah sebuah pengingat akan apa yang Yesus lakukan bagi kita ketika Ia disalibkan.  Dengan darah yang tercurah dan dagingnya yang tercabik-cabik itu, setiap dosa, sakit dan penderitaan kita telah ditanggungnya. Anggur dan roti itu adalah pengingat bahwa Tuhan begitu mengasihi kita sehingga dikaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya siapa yang percaya pada-Nya tidak binasa.
Roti dan anggur yang kita makan dan minum saat perjamuan kudus adalah pengingat bahwa seorang pribadi telah mati bagi kita.

Selasa, 19 April 2011

Jangan Buat Yesus Menangis Lagi

Lukas 19:41-42

Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya:
"Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Yesus memasuki Yerusalem dengan kemegahan, orang-orang merayakannya. Mereka tertawa. Mereka senang. Mereka mengalami waktu yang indah. Lalu apa yang Yesus lakukan? Dia melihat kota itu, dan Dia menangisi-Nya. Ditengah kerumunan itu, yang menggila, dan Yesus menangisinya. Kerumunan itu bersukacita, dan Kristus terisak-isak.

Mengapa Yesus menangis ketika melihat Yerusalem? Sebagai Tuhan yang maha tahu, Yesus tahu bahwa orang-orang yang sedang bersorak, “Hosana!” ini akan dengan segera berteriak, “Salibkan Dia!” Dia tahu bahwa salah satu murid-Nya, Yudas, akan mengkhianati-Nya. Dia tahu murid-Nya yang lain, Petrus, akan menyangkal Dia. Dia tahu bahwa Kayafas, imam besar itu, akan berkonspirasi dengan Pilatus,  Gubernur Roma, untuk membunuh Dia. Dan, Dia tahu masa depan Yerusalem. Melihat 40 tahun kemudia, Dia melihat kehancuran akan terjadi pada kota itu di tangan Kaisar Titus dan tentara Romawinya.

Yesus juga menangis karena masa pelayanan-Nya akan segera selesai. Waktu begitu singkat. Dia telah menyembuhkan penyakit mereka. Dia telah membangkitkan orang mati. Dia telah mentahirkan orang kusta. Dia telah memberi makan orang lapar. Dia telah mengampuni dosa mereka. Namun dalam sebagian besar waktunya, Dia ditolak. Yohanes 1:11 berkata, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” Jadi Dia menangis. Hal itu menghancurkan hatinya, dan hal ini masih terjadi.

Ketidak percayaan dan penolakan menghancurkan hati Tuhan, karena Dia tahu akibatnya. Tetapi ketika hati manusia tertutup, Dia menolak masuk secara paksa. Dia hanya akan mengetuk pintu hati itu, menunggu untuk diijinkan masuk. Dia memberi kita kemampuan untuk memilih. Tetapi ketika kita salah memilih sesuatu, Dia tahu dampak yang akan mengikutinya – baik dalam hidup ini dan juga yang akan datang. Dan hatinya hancur karenanya. (Greg Laurie/Harvest.og)

Setiap pilihan buruk yang kita buat, Yesus menangis karena hati-Nya hancur melihat umat yang Ia kasihi harus mengalami konsekuensi yang buruk.