Selasa, 10 Februari 2015

Berdoalah!

Lukas 11:1-13

Berdoa merupakan suatu langkah yang sederhana. Namun memiliki dampak yang besar. Sayangnya tidak sedikit orang Kristen yang mengabaikan hal ini. Sehingga banyak orang percaya yang pesimis terhadap doa, sehingga enggan berdoa.

Yesus merespons permintaan para murid agar diajarkan berdoa dengan memberikan doa yang kita kenal sebagai Doa Bapa Kami. Melaluinya, kita belajar unsur-unsur mendasar dari doa yang benar. Pertama, doa berisikan pujian kepada Allah (2). Hal yang sering diabaikan atau mungkin tidak diketahui oleh orang percaya, yaitu memberikan pujian kepada Allah melalui doa. Sering doa hanya dipahami sebagai ungkapan keluh kesah hati semata, atau hanya sebagai sarana untuk menyampaikan daftar pergumulan dan keinginan kita. Ungkapan pujian dan syukur dalam doa menunjukkan kesadaran kita akan siapa Tuhan, siapa kita.

Kedua, doa juga berisikan permohonan (3). "Berikanlah kami...yang secukupnya." Tuhan mengajar kita agar meminta kepada-Nya sesuai dengan kebutuhan, bukan untuk dihambur-hamburkan. Ia menjamin bahwa ketika kita meminta maka Ia akan memberikan sesuai dengan kehendak-Nya (9-10). Ketiga, doa juga berisikan ungkapan pertobatan (4). Dalam doa kita mengakui pelanggaran dan dosa kita, tanpa perantara dan langsung kepada Allah. Bagian ini menuntut kejujuran dan keterbukaan kita pada-nya, sehingga dengan begitu Ia akan mengalirkan kasih dan pengampunan-Nya pada kita.

Keempat, berdoalah seolah kita sedang berbicara pada seorang sahabat (5-8). Tanpa mengurangi penghormatan kita pada Allah, Tuhan mengajar kita untuk berdoa seperti sedang berdialog dengan sahabat kita, ada kedekatan, keakraban dan tanpa kecanggungan. Kelima, berdoa seperti seorang anak kepada bapaknya (11-13). Hubungan itu tentu memiliki ikatan emosional yang tinggi. Seorang bapak pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya. Demikian pula dengan Allah Bapa tentu juga akan memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Mari berdoa!

SABDA.org

Senin, 09 Februari 2015

Memprioritaskan Yang Utama

Lukas 10:38-42

Kepadatan aktivitas dan kesibukan kerja bisa merupakan penghalang untuk kita memiliki waktu bersekutu dengan Tuhan. Bahkan juga merupakan salah satu alasan bagi kemunduran rohani seseorang. Jam-jam doa dan perenungan firman Tuhan tergerus oleh padatnya jadwal harian yang kadang malah kehilangan makna dan tujuannya.

Marta mengalami hal yang demikian, ia menyibukkan dirinya dengan melayani Yesus yang singgah di rumahnya (38-39). Bahkan karena kesibukannya yang melelahkan ini, ia sempat protes pada Yesus karena saudaranya, Maria yang sama sekali tidak membantunya (39). Tuhan malah menilai tindakan Marta hanya menyusahkan diri sendiri.

Maria sama sekali tidak memperdulikan kesibukan Marta. Ia memilih untuk duduk dekat kaki Tuhan untuk mendengarkan pengajaran-Nya. Sekalipun Marta memprotesnya justru tindakan Maria dikomentari Yesus sebagai "memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya"(42).

Hal apa yang dapat menjadi pelajaran bagi kita? Pertama, kesibukan kita, apa pun jenisnya, termasuk kesibukan melayani Tuhan (40), dapat menjadi "pembunuh" waktu kebersamaan kita dengan Tuhan. Bukan berarti melayani Tuhan itu suatu yang buruk, namun jika itu menjadi penghambat hubungan kita dengan Tuhan maka merupakan hal yang membahayakan bagi kehidupan rohani kita. Jangan-jangan yang kita lakukan lebih melayani kebutuhan diri sendiri untuk eksis.

Kedua, duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya harus menjadi prioritas hidup orang percaya. Karena ini merupakan hal yang utama, Tuhan adalah sumber kehidupan kita. Justru dari duduk mendengarkan Tuhan, kita dapat memiliki pelayanan yang diperbarui sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bukan untuk motivasi lainnya.

Mari kita meneladani Maria yang memprioritaskan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan.Baik dalam waktu teduh pribadi kita, ataupun dalam persekutuan dengan saudara seiman.

Sumber Renungan Santapan Harian 2015/02/10_Selasa_

Minggu, 01 Februari 2015

Yesus Menerima Orang Berdosa

Lukas 7:36-50


Bila seorang perempuan tidak datang ke rumah seorang Farisi bernama Simon, mungkin perjamuan makan yang dia adakan bagi Yesus, akan berlangsung biasa-biasa saja. Tidak dijelaskan alasan Simon mengundang Yesus makan, mungkin untuk berdiskusi.

Namun kisahnya menjadi berbeda ketika seorang perempuan yang dikenal berdosa, datang ke perjamuan makan itu (37). Ia tidak berkata apa-apa, tetapi tindakannya bermakna lebih dari beribu kata. Mungkin orang yang ada di situ melihat dengan pandangan ngeri ketika perempuan berdosa itu mendekati Yesus. Dan mata semakin terbelalak ketika perempuan itu menangis di kaki Yesus, menyeka kaki Yesus dengan rambutnya, mencium kaki Yesus, dan meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang dia bawa (38). Karena Yesus mendiamkan perempuan berdosa itu bertindak demikian, Simon mengira bahwa Yesus tidak tahu siapa sesungguhnya perempuan itu. Bila tidak tahu, tentu Dia bukan nabi.

Membaca pikiran Simon, Yesus pun menyampaikan perumpamaan tentang dua orang yang berhutang, lalu karena tidak sanggup membayar maka hutang kedua orang itu pun dihapuskan (40-43). Keduanya tentu berterima kasih kepada orang yang memiutangi mereka, tetapi rasa terima kasih yang lebih besar tentu akan datang dari orang yang hutangnya lebih besar. Ketika Allah mengampuni seorang yang berdosa besar maka orang itu pun akan memiliki rasa syukur yang sangat besar. Namun Yesus bukan sedang berkata bahwa tindakan perempuan itulah yang menyelamatkan dia. Melainkan kasih dan pengampunanlah yang membuat perempuan itu merasa diterima Allah sehingga membuat dia bertindak demikian. Jadi imanlah yang mengarahkan tindakannya (50).

Yesus tahu bahwa seorang pendosa dapat berubah bila ia mau menerima kasih Allah. Bapa di surga pun bersedia mengampuni dosa bila pendosa mau berbalik kepada-Nya. Maka jangan simpan-simpan dosa-dosa Anda, sebesar apapun. Terbukalah pada Allah dan mintalah pengampunan-Nya, niscaya Ia mengampuni Anda. Lalu nyatakanlah syukur Anda.



sumber: Santapan Harian /Jumat, 2015/January/23

Kamis, 07 Agustus 2014

:: Anak Gadis & Ibunya Yang Cantik ::

Suatu pagi seorang anak gadis berkata pada ibunya :
“ Ibu, ibu selalu terlihat cantik. Aku ingin seperti ibu, beritahu aku caranya“
“ Dengan tatapan lembut dan senyum haru, sang ibu menjawab:
“ Untuk bibir yang menarik, ucapkanlah perkataan yang baik”
“ Untuk pipi yang lesung, tebarkanlah senyum ikhlas kepada siapapun”
“ Untuk mata yang indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain..”
“ Untuk tubuh yang langsing, sisihkanlah makanan umtuk fakir miskin”
“ Untuk jemari tangan yang lentik menawan, hitunglah kebajikan yang telah di perbuat orang kepadamu.”
“ Untuk wajah putih bercahaya, bersihkan kekotoran batin…”
Anakku… Janganlah sombong akan kecantikan fisik, karena itu akan
pudar oleh waktu. Kecantikan perilaku tidak akan pudar walau oleh kematian….
Jika anda BENAR, maka anda tidak perlu marah.
Jika anda SALAH, maka anda wajib minta maaf.
Kesabaran dengan keluarga adalah KASIH.
Kesabaran dengan orang lain adalah HORMAT
Kesabaran dengan diri sendiri adalah KEYAKINAN
Kesabaran dengan Allah adalah IMAN.
Jangan terlalu mengingat masa lalu, karena hal itu akan membawa AIR MATA.
Jangan terlalu memikirkan masa depan, karena hal itu akan membawa KETAKUTAN.
Jalankan saat ini dengan senyuman, karena hal itu akan membawa
KECERIAAN.
Setiap ujian dalam hidup ini bisa membuat anda pedih atau lebih baik. Setiap masalah yang timbul bisa menguatkan atau menghancurkan.
Pilihan ada pada anda,apakah anda akan memilih menjadi korban atau pemenang.
Carilah hati yang indah, bukan wajah yang cantik.
Hal hal yang indah tidak selalu baik, tapi hal hal yang baik akan selalu indah…..
Tahukah kita, mengapa Allah menciptakan ruang antar jari tangan kita?
Agar seseorang yang menurut kita special akan datang dan mengisi ruang tersebut, dengan memegang tangan kita selamanya..
Selamat berjuang menyemai dan menanam bibit bibit kebajikan…
Ingat!
kesempatan tidak selalu membuat hidup kita lebih baik, tapi perubahan diri kita yang mengubah segalanya…. <3 p="">

Senin, 04 Agustus 2014

Kisah Mawar dan Pohon Bambu

Di sebuah taman, terdapat taman bunga mawar yang sedang berbunga. Mawar-mawar itu mengeluarkan aroma yang sangat harum. Dengan warna-warni yang cantik, banyak orang yang berhenti untuk memuji sang mawar. Tidak sedikit pengunjung taman meluangkan waktu untuk berfoto di depan atau di samping taman mawar. Bunga mawar memang memiliki daya tarik yang menawan, semua orang suka mawar, itulah salah satu lambang cinta.

Sementara itu, di sisi lain taman, ada sekelompok pohon bambu yang tampak membosankan. Dari hari ke hari, bentuk pohon bambu yang begitu saja, tidak ada bunga yang mekar atau aroma wangi yang disukai banyak orang. Tidak ada orang yang memuji pohon bambu. Tidak ada orang yang mau berfoto di samping pohon bambu. Maka tak heran jika pohon bambu selalu cemburu saat melihat taman mawar dikerumuni banyak orang.

“Hai bunga mawar,” ujar sang bambu pada suatu hari. “Tahukah kau, aku selalu ingin sepertimu. Berbunga dengan indah, memiliki aroma yang harum, selalu dipuji cantik dan menjadi saksi cinta manusia yang indah,” lanjut sang bambu dengan nada sedih.

Mawar yang mendengar hal itu tersenyum, “Terima kasih atas pujian dan kejujuranmu, bambu,” ujarnya. “Tapi tahukah kau, aku sebenarnya iri denganmu,”

Sang bambu keheranan, dia tidak tahu apa yang membuat mawar iri dengannya. Tidak ada satupun bagian dari bambu yang lebih indah dari mawar. “Aneh sekali, mengapa kau iri denganku?”

“Tentu saja aku iri denganmu. Coba lihat, kau punya batang yang sangat kuat, saat badai datang, kau tetap bertahan, tidak goyah sedikitpun,” ujar sang mawar. “Sedangkan aku dan teman-temanku, kami sangat rapuh, kena angin sedikit saja, kelopak kami akan lepas, hidup kami sangat singkat,” tambah sang mawar dengan nada sedih.

Bambu baru sadar bahwa dia punya kekuatan. Kekuatan yang dia anggap biasa saja ternyata bisa mengagumkan di mata sang mawar. “Tapi mawar, kamu selalu dicari orang. Kamu selalu menjadi hiasan rumah yang cantik, atau menjadi hiasan rambut para gadis,”

Sang mawar kembali tersenyum, “Kamu benar bambu, aku sering dipakai sebagai hiasan dan dicari orang, tapi tahukah kamu, aku akan layu beberapa hari kemudian, tidak seperti kamu,”

Bambu kembali bingung, “Aku tidak mengerti,”

“Ah bambu..” ujar mawar sambil menggeleng, “Kamu tahu, manusia sering menggunakan dirimu sebagai alat untuk mengalirkan air. Kamu sangat berguna bagi tumbuhan yang lain. Dengan air yang mengalir pada tubuhmu, kamu menghidupkan banyak tanaman,” lanjut sang mawar. “Aku jadi heran, dengan manfaat sebesar itu, seharusnya kamu bahagia, bukan iri padaku,”

Bambu mengangguk, dia baru sadar bahwa selama ini, dia telah bermanfaat untuk tanaman lain. Walaupun pujian itu lebih sering ditujukan untuk mawar, sesungguhnya bambu juga memiliki manfaat yang tidak kalah dengan bunga cantik itu. Sejak percakapan dengan mawar, sang bambu tidak lagi merenungi nasibnya, dia senang mengetahui kekuatan dan manfaat yang bisa diberikan untuk makhluk lain.

Daripada menghabiskan tenaga dengan iri pada orang lain, lebih baik bersyukur atas kemampuan diri sendiri, apalagi jika berguna untuk orang lain.


Jumat, 22 Maret 2013

Bila Belum Terjawab


Pengkhotbah 3:11

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,  bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.



Ada tiga hal penting yang ada pada Bapa dan perlu kita sadari. Pertama, Tuhan Mahatahu. Dia tahu perjuangan kita setiap kali kita meminta, mencari, atau pun bersyukur keoada-Nya. Tuhan tahu seberapa besar keinginan kita agar doa kita dikabulkan. Tuhan tahu apa yang akan terjadi pada diri kita karena Dialah yang memegang masa depan kita, Tuhan membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku, ungkap Pemazmur. Tuhan tahu segalanya termasuk pikiran kita.

Kedua, segala sesuatu ada waktunya. Mungkin doa kita sudah dijawab oleh Tuhan namun belum tiba waktunya bagi kita untuk mengetahuinya. Mungkin karena kita belum siap diproses oleh Tuhan, kita masih bisa bertahan. Jadi, apa yang kita minta akan Tuhan berikan menurut waktu-Nya. Itulah saat Tuhan menjawab doa. Dalam Pengkhotbah 3:17 dikatakan, "Untuk segalah hal dan segala pekerjaan ada waktunya."

Ketiga, Tuhan pasti membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Kita bisa mengatakan bahwa saat itulah Tuhan mengabulkan doa kita. Hal ini sudah tepat, karena kita sudah siap dan membutuhkannya. Tuhan juga sudah memberi tanda bahwa Dia mengijinkannya. Kita perlu terus percaya bahwa doa kita pasti dijawab, tidak ada yang mustahil di dalam Tuhan, kita beriman kepada Kristus, berharap pada-Nya. Tuhan Yesus pasti mengabulkannya. Percayalah, waktu Tuhan itu indah bagi kita. Bersabarlah!

Permulaan sabar adalah pahit, tetapi manis akhirnya.
Sumber : Renungan Malam / Zee

Minggu, 16 Desember 2012

Menjelang Hari Tuhan Yang Mendekat

Matius 24:44
Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.

Beberapa tahun terakhir Indonesia sangat rawan dengan bencana alam. Masih segar diingatan kita bagaimana tsunami menghantam Aceh, gempa dasyat menggoncang kota Padang. Menghadapi berbagai bencana itu, akhirnya diikembangkan sistem peringatan dini terhadap bencana alam. Tidak berhenti pada sistem peringatan dini, masyarakat pun dilatih untuk melakukan simulasi ketika mendengar peringatan bahaya.
Bencana alam memang tidak bisa kita duga kapan datangnya, sebab itu kita dituntut untuk waspada. Tahukah Anda bahwa Tuhan menuntut kita memiliki kewaspadaan yang serupa dalam hal rohani, bahkan mungkin lebih waspada dari menghadapi bencana alam. Yesus berkata : "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." Matius 24:42Perintah Yesus untuk kita berjaga-jaga bukanlah untuk menakuti kita, atau membuat kita seperti fenomena saat ini dimana sebagian orang yang pergi ke tempat-tempat tertentu untuk menunggu kiamat.

Sebaliknya, Yesus meminta kita waspada menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali, agar kita semakin giat bekerja mengemban tugas yang Ia berikan. Ia berkata "berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang." Matius 24:46.  Janji kedatangan-Nya seharusnya memacu kita untuk semakin giat untuk mengemban Amanat Agung, dengan demikian kita dapat menyenangkan hati Tuan kita.
Akhir zaman atau kiamat bukanlah garis akhir bagi orang percaya, tetapi sebuah estafet menuju sebuah kehidupan yang baru. Untuk itu jangan hadapi dengan ketakutan, tetapi hadapilah dengan kegairahan dan sukacita sambil giat bekerja bagi Tuhan kita.

Mari jaga kewaspadaan kita menjelang hari Tuhan yang mendekat, kuatkan iman, dan makin giatlah bekerja bagi Kristus.

sumber: